
Hari menjelang siang, terik matahari kian menyengat di terminal Luwi Panjang. Perjalanan menuju Ciembeuleut akhirnya berakhir di gerbang belakang kampus ITB. Sambutan dari syedara-syedara UKA ITB memberikan udara segar setelah dua jam perjalanan dari Depok ke Bandung.
Terpampang di sebuah pengumuman bahwa UKA ITB kedatangan tamu di SAMAN UI, ternyata tak disangka begitu sederhana persiapan yang diberikan oleh UKA memberikan sebuah semangat yang luar biasa bagi SAMAN UI dalam penjamuan tersebut. Mahasiswa Aceh di ITB ternyata cukup banyak dan tidak seberapa bila dibandingkan dengan mahasiswa Aceh di UI yang kini aktif di SAMAN UI.
Sambutan oleh ketua UKA ITB Aldi Afriansyah yang diawali dengan jalan-jalan di kampus Dewa Ganesha ini akhirnya tepat pada jam 17.00 WIB di terowongan (tunnel sungken) menjadi tempat pilihan favorit anak-anak UKA ITB dalam penjamuan anak-anak SAMAN UI. Ditemani dengan sebotol minuman dingin dan brownies khas Bandung membuat suasana perkenalan antara SAMAN UI dan UKA ITB semakin terasa.
Sharing program kerja dan kegiatan lainnya juga memberikan berbagai pandangan yang kami dapat dari UKA dan sebaliknya. UKA yang akan merayakan Milad (ulang tahun) ke-19 di bulan Agustus ini juga menjadi bahan bagi SAMAN UI untuk ikut berkontribusi dan bekerjasama dalam kegiatan tersebut.
Di usia yang semakin dewasa UKA telah banyak memberikan dan mengharumkan Aceh ke kancah nasional melalui program-program kebudayaan yang mereka miliki ternyata membuat SAMAN bertekad untuk mengikuti jejak mereka.

Tidak hanya itu selain kebudayaan dan seni UKA juga berpartisipasi dalam kegiatan saweu gampoeng ke Aceh, walaupun hal ini beririsan dengan program kerja SAMAN yang paling fenomenal dengan SAMAN UI Saweu Gampoeng (SSG) yang saat ini telah menjadi program kerja unggulan selama 3 tahun kepengurusan.
Tak lekang dari ingatan, tarian Likok Pulo dari personel laki-laki (aneuk agam) UKA juga mewarnai atas kedatangan SAMAN UI. Sebuah pesan yang sangat singkat dengan sarat makna ini memberikan sebuah semangat yang luar biasa yang selama ini sangat jarang kami (SAMAN UI, -red) lihat di Jakarta.
Apresiasi yang luar biasa kami berikan kepada mereka anak-anak UKA yang telah turun temurun menjaga tarian Aceh ini untuk tetap lestari di kancah dunia kesenian nasional bahkan sampai internasional. Tidak hanya itu dengan semangat yang luar biasa mereka telah mampu membuat kesenian tradisional Aceh ini tetap lestari walaupun kenyataan yang kita lihat sekarang kebangkitan Aceh semakin hari semakin luput dari kehilangan identitas diri (pesan ini disampaikan oleh Ferdiyansyah – Endatu UKA ITB).
Bertepatan dengan kedatangan SAMAN UI, malam minggu itu ternyata pihak endatu UKA ITB juga melaksanakan sebuah acara sederhana plus bakar-bakar ayam yang diawali dengan games yang membuat sebuah keakraban antara sesama mahasiswa yang melibatkan 10 orang mahasiswa SAMAN UI juga ikut terlibat bersamanya.
Setelah permainan demi permainan yang berlalu, acara penyampaian nasehat singkat juga disampaikan oleh pihak endatu UKA ITB oleh Ferdiyansyah seperti yang telah diuraikan diatas juga memberikan sisi flashback bagi semua peserta yang hadir untuk kembali membawa Aceh dalam indentitas diri yang tidak lepas dari kemerosotan akhlak dan akidah dari pengaruh budaya yang masuk pada pemuda-pemudi Aceh saat ini.
Uraian singkat dalam tempo singkat 15 menit tersebut, mempunyai sarat makna pesan dan ajakan yang seharusnya masih banyak yang harus dilakukan mahasiswa dan pemuda Aceh yang berada di luar Aceh untuk mengembalikan kembali bukti identitas pribadi mereka dengan masalah-masalah kecil seperti berbusana, berbicara, pergaulan dan lain-lain sebagainya.
Hal yang paling mengesankan bagi kami yang datang ke UKA ITB adalah penampilan (performance) terakhir dari acara keakraban malam minggu tersebut yakni tarian khas (inoeng ngon agam) yang melibatkan hampir 20-an massa untuk tampil dengan iringan khas rapa’i yang menggemakan tunnel sungken di malam yang makin dingin.
Dan akhir dari acara malam keakraban ditutup dengan makan malam bersama secara lesehan di depan sekretarian UKA ITB dengan sepatah dua patah kata dari panitia acara endatu UKA ITB, perwakilan SAMAN UI dari Maftuh Ihsan dan dari alumni 2001 UKA ITB.
Akhir kata kami mewakili SAMAN UI mengucapkan terima kasih kepada UKA ITB atas sambutan dan sharing pendapat dalam rangkain acara Studi Banding Kekeluargaan SAMAN UI kali ini ke Unit Kebudayaan Aceh ITB di Bandung. Semoga silaturrahmi ini menjadi awal bagi terciptanya persaudaraan antara Depok dan Bandung untuk masa depan Aceh yang lebih baik nantinya.[red]

























12 May, 2008 at 23:01 |
Kirem Saleum Keu kakak ‘05 yang jak bak UKA baroe sa beuh..
Soe nan geuh? uloen ka tuwoe.
PS:meunyoe na email si kakak neupeugah bak loen beuh
Saleum dari endatu dibandoeng.
13 May, 2008 at 13:01 |
oi, endatu,, diam kow
13 May, 2008 at 17:45 |
@endatu:
saleum juga dari kamoe di depok.
Masak keu ka2k 2005 mantong kirem saleum jih?hehehe…
@admin:
foto2 ama videonya diupload ke milis dong bos…
14 May, 2008 at 09:18 |
Akhirnya foto ada juga, akan di upload di friendster dan milis.
14 May, 2008 at 13:06 |
Nyang nyan kakak jih, Nyang pakek jilbab puteh bak poto paleng ateuh..
soe nan geuh…Peu kak novi peu kak mila?
yang toeh friendster gobnyan?
14 May, 2008 at 19:58 |
@endatu
klo mo ngejar cewe pake nama sendiri nyet. jangan sembunyi dibalik nama anonymous.
bikin malu aja kow kutengok.