Skip to content

Kampung Laemate: Sejarah yang Panjang

8 April, 2009

laemate1Oleh Malim Sempurna*

Ketika orang dari suku Pakpak dan Boang mendengar kata Laemate, pasti yang terpikir di benak mereka adalah air mati, karena kata ini berasal dari bahasa Boang. Lae berarti air dan Mate berarti mati. Kata yang kemudian menjadi nama sebuah kampung ini selalu menjadi pertanyaan bagi masyarakat yang baru mendengarnya, karena pada dasarnya air di kampung Laemate hidup, tidak mati.

Memang ada yang mengatakan bahwa air mati itu benar telah terjadi di kampung Laemate pada masa perang melawan penjajah Belanda, sehingga kaum muslimin bisa menyeberangi sungai yang telah beku menjadi es. Namun sampai sekarang, belum ada data kongkrit yang menunjukkan kebenaran kejadian ini.

Tapi yang jelas, kampung dengan penduduk terbanyak di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di wilayah Kota Subulussalam sampai ke Aceh Singkil itu, mempunyai sejarah panjang.

Sejarah Kampung Laemate
Kampung Laemate merupakan salah satu daerah yang sangat jauh dari keramaian atau boleh juga dikatakan daerah pedalaman. Untuk mengunjungi Kampung ini tidaklah mudah, harus menempuh dua jalur: darat dan sungai.

Pada awalnya, daerah ini belum dikatakan kampung, karena hanya segelintir penduduk saja yang tinggal di sana. Namun dengan semakin banyaknya orang yang datang, ditambah lagi dengan tanahnya yang sesuai untuk bercocok tanam, maka dibuatlah suatu kampung dengan nama Laemate.

Jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda, kampung ini sudah ada. Bukti ini bisa dilihat dari bangunan rumah tua, makam-makam para syuhada terdahulu dan lain-lain. Malah kampung ini tidak jauh dari kampung Oboh, tempat dimakamkannya Syeikh Hamzah Al-Fansuri, seorang ulama pada zaman dahulu.

Pada zaman dahulu, wilayah Singkil yang sekarang telah dimekarkan menjadi Kota Subulussalam, hanya memiliki jalur sungai untuk menghubungkan wilayah ini ke wilayah yang lain. Jika jarak tempuhnya dekat, penduduk memilih berjalan kaki kaki. Tapi jika jaraknya terlalu jauh, maka masyarakat wilayah ini menggunakan jalur sungai sebagai penghubung utama dengan daerah lain. Misalnya kota Medan. Pada masa itu, penduduk yang ingin ke sana harus melawan arus sungai sampai ke daerah Alas (Aceh Tenggara) dengan perahu tanpa mesin. Dari Alas bisa langsung menuju daerah Karo. Dari Karo inilah nafas segar sudah mulai bisa dirasakan, karena di daerah ini tersedia jalan menuju kota Medan dengan mudah dan cepat. Bisakah Anda bayangkan bagaimana sedih dan capeknya nenek–nenek kami dahulu? Itulah perjuangan hidup.

Kampung Laemate juga tidak asing lagi bagi Daerah Aliran Sungai (DAS), karena kampung ini merupakan daerah terpanjang dan terpadat penduduknya di sekitar aliran sungai. Bahkan sampai saat ini tercatat penduduknya lebih dari seribu orang yang hidup bermasyarakat dan menjalankan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari.

Penghasilan Penduduk
Penghasilan utama penduduk kampung Laemate adalah tani. Sehingga nama bulan dikarang oleh penduduk setempat tanpa melenceng dari makna 12 bulan yang ada di dunia ini.

Misalanya saja bulan ramadhan. Penduduk di kampung ini menyebutnya bulan Puasa, Begitu juga Syawal disebut bulan Khe Khaya yang berarti hari Raya, dan banyak lagi istilah seperti ini disana. Nama pengalihan bulan seperti ini, khususnya di Laemata sendiri adalah adalah untuk menyesuaikan keadaan dalam bercocok tanam. Karena dalam bertani harus mempunyai bulan tertentu.

Bila salah dalam menanam maka banjir akan dating, sehingga penghasilan masyarakat bisa jadi akan hilang dan lenyap. Karena daerah aliran sungai sudah menjadi kebiasaan banjir setiap tahunnya di bulan tertentu.

Selain bertani, daerah ini juga terdapat penghasilan yang lain dan bisa menambah pendapatan penduduk setempat, seperti, Karet, Ikan, Kelapa, Kayu dan komoditas hasil bumi lainnya.

Pendidikan
Tidak kalah saingnya juga, kampung ini telah mempunyai sarana pendidikan seperti Sekolah Dasar (SD) dan Pesantren “Hubbul Wathan”. Di setiap pelosok sampai nan jauh ke ujung kampung, anak-anak terlihat dengan semangat belajar pagi dan sore.

Pagi hari mereka pergi ke sekolah dasar dan siangnya belajar di pesantren. Biasanya kalau sudah mendapat Ijazah setingkat Ibtidaiyah atau SD, kebanyakan pasa siswa/inya melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan pindah keluar daerah.

Pesantren di kampung ini sudah berumur lebih kurang 25 tahun, dan ini menjadi kebanggaan di suatu kampung yang bisa dengan bahu membahu dan gotong royong bersama membangun sebuah pesantren.

Selain pesantren, sarana pengajian khusus kaum Bapak dan Kaum ibu juga tersedia di berbagai tempat, dan ini merupakan kewajiban bagi Mareka untuk mengikutinya demi memahami agama allah. Seperti Thariqat naqsabandiah, amalan khalwat suluk, diringi dengan pengajian, amalan tata cara shalat, serta amalan penting lainnya.

Jika melirik kembali ke masalah pendidikan, tercatat dalam sejarah kampung ini, bahwa siswa/inya sudah banyak menuntut ilmu keluar daerah di berbagai tempat. Mereka juga telah menghasilkan banyak kader khususnya di bidang agama. seperti belajar ke Pesantren Tanah Merah, kuliah di Fakultas STAIS Kota Subulussalam, USU atau IAIN Medan, IAIN Banda Aceh, UGM Jogjakarta, dan bahkan ada yang sudah sampai menembus ke Benua Afrika, di Mesir.

Adat Istiadat
Budaya dan adat istiadat merupakan salah satu ciri khas di manapun suatu penduduk itu tinggal. Dan masing-masing penduduk mempunyai adat istiadat yang berbeda, walaupun di sana-sini kita ada menemui ada persamaan, namun persamaan itu pasti mempunyai perbedaan.

kampung Leamate mempuanyai adat istiadat tersendiri. Seperti dalam hal meminang, terlihat dari kaum laki-laki harus membawa beberapa peralatan kampung yang dibalut dengan kain berkilat. Didalam kain itu tersedia sirih, tempat kapur yang terukir indah, rokok, dan lain-lain. Ini nantinya akan dihidangakan di depan keluarga mempelai perempuan untuk makan sirih atau merokok di sela-sela bercerita dan bersendagurau.

Selain itu, terdapat juga Tari Dampeng. Tari Dampeng ini merupakan tarian adat di wiliyah Kota Subulussalam dan Aceh Singkil. Bila mana ada suatu pesta tanpa dihibur dengan Tari Dampeng sepertinya acara pesta tersebut kurang sempurna dan tari ini merupakan bumbu dalam setiap acara pesta pernikahan dan sunat rasul.

Kampung Laemate Sudah Mati?
Mungkin ucapan ini sangat aneh bila kita mendengarnya. Tapi inilah fakta yang harus ditangisi. Dengan deraian air mata pada tahun 2002 sekitar tanggal 20 juli kampung ini harus ditinggalkan oleh penduduknya sampai sekarang. Bukan kesengajaan dan keinginan untuk meninggalkannya, tapi inilah taqdir allah yang maha kuasa.

Aceh dengan tuduhan spartisnya yang selalu dilontarkan oleh Indonesia pada masa itu membuat penduduk Laemate harus mengungsi. Karena untuk bertahan hidup tidak mungkin lagi. Perang berkecamuk antara GAM dan RI. Tidak ada jalan kecuali mengungsi. Hal yang serupa juga dialami oleh kampung tetangga. Bahkan saat itu tercatat lebih dari 18 Kampung yang harus segera ditinggalkan oleh penduduknya.

Jadilah Kampung Laemate Baru
Setelah teromabang-ambing lebih dari 6 bulan dapatlah satu kesimpulan bahwa masyarakat kampung Laemate baru mendapatkan setapak tanah dengan tujuan membangun kembali rumah penduduk untuk bertahan hidup dan tentunya membangun sebuah kampung dalam hal ini dimulai dari nol. Kampung yang dulunya mereka miliki dihiasi dengan keindahan masjid, musalla, dan lain-lain. Namun saat ini semua dihiasi dengan ranting-ranting pohon dan daun-daun yang masih segar dan harus diratakan dengan tanah.

Di balik semua kisah ini tersimpan banyak himah dan pelajaran khususnya bagi masyarakat kampung Laemate sendiri.

Demikianlah sebuah kisah suatu kampung yang sangat jauh dari perkotaan, namun kesabaran untuk bertahan hidup saat ini kampung tersebut sudah mulai membangun, baik dari pemberdayaan masyarakat, pembangunan sarana sekolah, jalan umum, masjid, mushalla, pembangunan rumah penduduk, baik dari BRR maupun dari BRA. Dan banyak lagi bantun yang lain telah diberikan oleh pemerintah kepada penduduk Laemate tersebut. Dan semoga kampung ini bisa menjadi kampung yang amar makruf dan nahi munkar.

Note – Suku Boang adalah suku mayoritas di Kota Subulussalam. Di Laemate sendiri hanya terdapat suku Boang saja. Sedangkan suku Pakpak termasuk salah satu suku yang ada dikota Subulussalam.. Selain suku tersebut masih banyak suku yang lainnya seperti Aceh, Padang, Jame dan lain-lain.

* Penulis adalah Mahasiswa pada Fakultas Al-Azhar Cairo, Mesir dan Aktivis World Acehnese Association (WAA)

About these ads
2 Comments leave one →
  1. 19 July, 2009 02:31

    Begi pana ceritana kampung lae mate,balek mo ko teudoh anak mu bak jabumu dah pukaaa..k….

    • 20 July, 2009 00:46

      bisa dibantu terjemahkan sebentar arti dari kalimat di atas?

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,213 other followers

%d bloggers like this: