Skip to content

1.786 Siswa Tidak Lulus UN Bahasa Indonesia

20 May, 2011
Bahasa Indonesia

Ilustrasi : ujiannasional.org

Kegagalan siswa dalam ujian nasional (UN) SMA/MA 2011 ternyata masih disebabkan ketidaklulusan untuk mata pelajaran (mapel) Bahasa Indonesia. Angka ketidaklulusan siswa dalam mapel Bahasa Indonesia termasuk kedua tertinggi setelah Matematika.

Untuk mapel Bahasa Indonesia, jumlah siswa yang tidak lulus atau memiliki nilai di bawah angka empat sebanyak 1.786 (38,43 persen). Sedangkan, total siswa yang tidak lulus mapel Matematika sebanyak 2.391 (51,44 persen). Untuk mapel Bahasa Inggris, jumlah siswa yang tidak lulus justru relatif sedikit yaitu sebanyak 152 (3,2 persen).

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Mansyur Ramly mengatakan faktor penyebab ketidaklulusan siswa untuk mapel Bahasa Indonesia disebabkan minimnya kemampuan siswa untuk memahami bacaan.

“Kebiasaan siswa untuk membaca artikel panjang kemudian mendapatkan maknanya masih kurang. Soal Bahasa Indonesia banyak diawali bacaan sehingga pertanyaan yang muncul terkait bacaan,” kata Mansyur kepada wartawan dalam konferensi pers terkait hasil UN di kantor Kemdiknas, Jakarta, Jumat (20/5).

Angka ketidaklulusan tertinggi untuk mapel Bahasa Indonesia berada di Aceh sebanyak 611 siswa. Daerah lainnya yang tinggi angka ketidaklulusan Bahasa Indonesia adalah Sumatera Barat (262 siswa), Jawa Timur (258 siswa), Sumatera Utara (152 siswa), Nusa Tenggara Barat (103 siswa) dan Sulawesi Selatan (99 siswa). Untuk mapel Matematika, angka ketidaklulusan tertinggi berada di Nusa Tenggara Timur (NTT) yaitu sebanyak 357 siswa. Daerah lain yang tinggi angka ketidaklulusan mapel Matematika adalah Jawa Tengah (266 siswa), Sumatera Barat (250 siswa), Sulawesi Tenggara (141 siswa), dan Sulawesi Tengah (139 siswa).

Terkait hal itu, Mansyur membantah ketidaklulusan siswa dalam Bahasa Indonesia disebabkan materi yang sulit. Menurutnya, ketidaklulusan juga dikarenakan siswa terburu-buru atau kurang cermat saat mengerjakan soal. Dia berharap guru Bahasa Indonesia lebih banyak melatih siswa untuk memahami makna dari bacaan.

“Di Amerika Serikat ada pelajaran membaca cepat (speed reading) artinya supaya anak juga dilatih cepat memahami konteks bacaan. Para guru Bahasa Indonesia perlu melatih siswa kita untuk belajar membaca cepat seperti itu,” ujarnya.  | suarapembaruan

About these ads
No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,221 other followers

%d bloggers like this: