Skip to content

TV Lokal ‘Bonafide’ Itu Adanya di Aceh

15 March, 2012

Oleh Ryan Hasri

Judul di atas secara jujur saya katakan terkesan “jampok”. Dalam bahasa Indonesia jampok itu diartikan sebagai rasa bangga diri. Tapi, bagi saya pribadi, keberadaan TV lokal bonafide itu harusnya memang berada di Aceh. Banyak alasan yang membuat saya harus mengemukakan hal ini kepada pembaca sekalian.

Sejak berlakunya Undang-Undang No.32 Tahun 2002 mengenai Penyiaran, pemerintah secara terbuka telah menunjukkan bahwa adanya usaha untuk tidak lagi mengedepankan penayangan siaran-siaran yang dilakukan melalui stasiun tv nasional. Ini diupayakan untuk memberikan kesempatan pada daerah-daerah ataupun komunitas untuk mampu menyelenggarakan penyiaran sesuai dengan muatan dan konten yang lebih sesuai dengan keadaan daerah tersebut.

Misalkan saja tayangan sinetron yang sekarang ini sering ditayangkan di TV-TV swasta nasional. Apakah muatan yang terkandung di dalam tayangan yang syuting di Jakarta (baca: Jawa) itu memiliki kesesuaian nilai dengan pemirsa yang berasal dari Aceh? Apakah cara berbicara gue-loe gak banget deh, gue-elo end! itu sesuai dengan seluruh masyarakat Indonesia? Anda tentu menjawab tidak. Kalaupun anda menjawab iya, maka dapat saya asumsikan anda adalah orang yang bergerak/bekerja pada TV swasta nasional yang tidak berpikir pada nasib warga daerah.

UU No.32 Tahun 2002 telah memberikan sebuah kesempatan besar bagi daerah untuk memiliki stasiun TV lokal yang mampu menyiarkan lebih banyak konten-konten lokal dari daerah tersebut. Ini ditujukan untuk memberikan batasan pada TV nasional agar tidak memonopoli warga negara Indonesia untuk menerima proses Jakartaisme. Mengapa demikian? Karena, masyarakat daerah berhak tau lebih banyak mengenai hal-hal lokal yang terjadi di daerahnya. Dari sini saya katakan, Aceh butuh stasiun TV yang bonafide.

Bukannya tidak menganggap stasiun TV yang sudah ada sekarang ini, tapi secara jujur sebagai orang yang tengah menuntut ilmu di bidang pertelevisian dan belajar langsung dengan para ahlinya, saya melihat dibutuhkan sebuah pergerakan besar dan dukungan dari segala pihak untuk memajukan TV lokal di Aceh agar tidak lagi hanya sekedar menjadi TV dokumentasi pesanan dan mendapatkan bayaran yang “sangat lokal”.

Pola bisnis TV baik lokal maupun swasta nasional adalah sama, yaitu commercial TV yakni TV yang mendapatkan penghasilannya melalui iklan. Untuk mendapatkan pengiklan, sebuah stasiun TV memiliki tarif bayaran (rate card) iklan yang ditentukan dari perolehan rating yang didapatkan oleh TV tersebut. Sekilas terlihat bahwa TV lokal tidak akan mampu untuk mendapatkan pengiklan dari perusahaan-perusahaan besar yang notabene secara prediksi akan lebih memilih TV nasional. Untuk menanggapi hal ini, saya hanya ingin mengajak warga Aceh untuk melakukan “mental block” terhadap hal tersebut. Karena saat ini ada banyak sekali putra-putri Aceh yang tengah belajar dan bekerja pada industri Audio-Visual (TV) yang memiliki kemampuan untuk menciptakan program-program yang akan “dihinggapi” para pengiklan.

Coba ingat lagi bagaimana baru-baru ini salah satu putra Aceh mampu berbicara banyak pada kompetisi film dokumenter tingkat nasional melalui karya yang mengangkat industri garam lokal yang sudah hampir mati di daerah Aceh. Itu salah satu contoh bagaimana konten lokal Aceh bernilai tinggi, masih orisinil dan belum terperhatikan, bahkan oleh anak-anak Aceh sendiri.

Mengapa saya berkata demikian? Karena cobalah lihat dari tayangan-tayangan yang saat ini ada di TV lokal kita. Apakah konten-konten yang demikian digarap. TIDAK. Tapi, seperti ada sebuah kesepahaman bersama yang seolah menyatakan bahwa “tanyoe hanjeut”. Sebenarnya pola pikir demikian salah besar. Dengan alasan sangat banyak hal yang mampu dijadikan uang dari berbagai keunikan daerah kita. Bukan mengikuti arus tayangan yang saat ini ada. Ketika TV lain berhasil dengan sinetron, maka kita pun harus buat sinetron. Ketika ada yang berhasil dengan lawak komedi maka semuanya pun berlomba-lomba lawak komedi. Bukan demikian yang seharusnya dipikirkan oleh anak aceh yang peduli pada perkembangan TV lokal Aceh. Tapi pada bagaimana kita mampu mengangkat hal-hal unik yang mampu menjadikan kita pembeda dari TV-TV lainnya.

Bisnis Dunia Pertelevisian

Berbicara mengenai pola bisnis TV, saya menyadari bahwa penyediaan transmisi dan produksi tayangan TV membutuhkan biaya mahal sekali. Maka jika TV lokal hanya dilepaskan begitu saja untuk menjalankan produksinya, maka saya akan yakin sekali yang dihasilkan ialah tayangan–tayangan yang sangat murah meskipun tidak murahan. Bisa jadi berpendidikan meskipun hanya 30%. Boleh jadi berseni, walaupun hanya 10%. Inti dari pernyataan ini adalah TV lokal bonafide di Aceh itu bukanlah mimpi seandainya Pemerintah mau untuk membantu dengan lebih baik lagi.

TV kini bukan hanya penyumbang kehidupan bagi segelintir orang (kru) yang ada di situ, tapi pada banyak masyarakat. Contohlah Korea, mengapa tayangan-tayangan Korea dapat bagus sekali dan menjadi idola remaja sekarang ini. Jawabannya karena TV-TV di Korea memproduksi tayangan berdasarkan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintahnya. Tentu saja mereka adalah kalangan yang mengerti mengenai TV. Karena tidak mungkin memberikan pengurusan TV pada mereka yang tidak berlatar belakang TV. Belum lagi dukungan finansial dari pemerintahnya kepada PH (production house) sehingga mereka mampu memproduksi tayangan yang benar-benar menarik. Ketika penonton tertarik, maka iklan juga akan ikut tertarik. Itu artinya aliran uang ke stasiun TV.

Dalam bidang sumber daya manusia (SDM), pemerintah Aceh harusnya juga punya perhatian untuk pada masalah ini. Bukan hanya persoalan menambah lulusan teknik yang harus dipikirkan. Tetapi juga bagaimana agar media komunikasi dan informasi daerah mampu berjalan dengan baik bahkan dapat menjadi primadona masyarakatnya. Karena, TV bukanlah hanya sebagai media hiburan belaka, tetapi juga sebagai pencerdas kehidupan bangsa. Apakah mau jika terus-terusan dicekoki dengan tayangan nasional “gue-elo” dan mengajarkan hedonisme itu kepada anak-anak Anda. Saya yakin jawabannya tidak. Salah satu cara yang harus dilakukan juga ialah bagaimana agar anak-anak muda Aceh mau belajar pada bidang pertelevisian. Bukan hanya itu, pemerintah daerah juga harusnya menghargai para putra-putri daerah tersebut dengan mengajak mereka secara bersama untuk berdiskusi mengenai masa depan TV di daerah Aceh.

Jika saja stasiun TV mendapatkan dukungan, maka Production House lokal juga akan ikut lahir. Apalagi jika nanti para pemuda Aceh yang telah mengerti mengenai berbagai proses kreatif, bisnis, dan manjerial mengenai masalah ini kembali ke daerah, maka akan menghasilkan kolaborasi yang jauh lebih klop lagi. Sehingga nantinya harapan kita semua ialah TV lokal Aceh bukan lagi hanya berisi tayangan-tayangan dengan kualitas lokal, tapi konten lokal kualitas nasional, bahkan internasional. Kualitas nasional yang saya maksudkan di sini ialah tayangan yang memiliki nilai seni, pendidikan, dan ekonomi (pengiklan) yang tinggi. Tentu saja dibutuhkan pemuda-pemuda Aceh yang siap untuk membangun daerah dan masyarakatnya. Jika saja semua faktor-faktor tadi dapat bersinergis dengan baik, maka suatu saat sebagai orang Aceh kita akan bisa menyaksikan tayangan-tayangan yang bagus dan berkualitas karya daerah sendiri, serta mampu berteiak bahwa TV Lokal bonafide itu ada di Aceh.

Kita semua berharap agar secepatnya ada pembenahan dari pemerintah untuk memanfaatkan dengan baik bibit-bibit yang sudah ada di daerah. Jika perlu sekolahan lagi mereka ke Australia Film Academy, atau sekolah film lainnya di seluruh penjuru dunia. Kita layaknya harus melek akan hal ini, suatu saat putra-putri daerah tersebut harus berada pada tanggung jawab mendokumentasikan berbagai sejarah dan juga keunikan daerah Aceh melalui tayangan-tayangan dari media audio-visual. Kalau tidak digarap dari sekarang, maka bukan hanya TV Lokal Bonafide yang tidak akan hadir. Tapi juga sejarah. Siapa yang telah memfilmkan mengenai kisah Malahayati ataupun tragedi tsunami dari kacamata pemilik sejarah (baca: orang Aceh) ? Belum ada. Apakah anda orangnya?

*Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI, IKP Production 2009 dan aktif di SAMAN UI

About these ads
No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,213 other followers

%d bloggers like this: