Skip to content

History Of Tsunami

9 December, 2007

Di akhir Desember nanti, Aceh akan memperingati peristiwa tsunami.

Aku ingat ketika Tsunami terjadi di 26 Desember 2004, saat itu aku sedang ujian akhir semester dan baru tidur jam 4 pagi krn kelelahan belajar. Waktu itu aku masih di Jakarta.

Jam 7 pagi, Ibu ku menelpon bhw di Aceh terjadi gempa yg cukup kuat dan menanyakan apakah di Jkt terjadi juga, dan mengharapkan ku utk banyak berdoa. Beliau mengabarkan bahwa orang di sana sudah berada di luar rumah masing2 dan berjaga-jaga jika terjadi gempa susulan.

Aku pikir biasa aja waktu itu, tp siapa sangka rupanya 1 jam kemudian, terjadi gempa yang sangat besar dan disusul tsunami yg terbesar dlm sejarah.

MasyaAllah…

Jam 8 pagi aku kehilangan kontak ke aceh, setelah 1/2 jam sebelum nya aku masih bisa di telpon oleh Ibu ku yang mengabarkan bahwa suasana disana orang2 sdh pada naik ke bukit, termasuk ibu ku untuk menghindari tsunami.

Aku juga masih ingat, betapa khawatirnya Ibu waktu itu krn tidak bisa mengetahui keberadaan Kakak ku yang saat itu sedang berada di Banda Aceh.

Rupanya stelah 1 hari kemudian, baru dapat kabar bahwa kakak ku dalam keadaan baik2 saja setelah sempat berlari 3 Km menghindari arus air yg cukup kuat dan sempat kelaparan krn tidak ada makanan dlm pengungsian.

MasyaAllah,

Waktu itu betapa banyak anggota keluarga kami yang juga menjadi korban tsunami, tp keluarga inti kami selamat. Ayah waktu itu 6 jam setelah tsunami langsung berangkat ke B.Aceh utk mencari kakak ku yg belum ada kabar setelah tsunami. Alhamdulillah, kakak ku selamat, dan berada dalam pengungsian dlm kondisi yg cukup shock, krn berada diantara ratusan mayat yg bergelimpangan.

Aku di jakarta pun harus menjaga adik2 ku yang dari Aceh, krn sebagian dari mereka juga akhirnya menjadi yatim piatu krn tsunami. Walaupun perasaan ku sedang kalut krn juga memikirkan keluarga, aku tetap berusaha menjaga adik2. Aku kumpulin mrk di satu tempat dan berdoa bersama. Lalu aku ajak mereka utk turun ke jalan mngumpulkan sumbangan ke Aceh.

Aku sdh tidak peduli dg kuliah dan ujian akhir ku saat itu. Aku cuma ingin berada setiap saat dgn adik2, saling menjaga agar tetap dalam keadaan baik.

Sembari itu, aku pun mencari peluang utk memberangkatkan semua adik2 di UI utk pulang ke kampung, bertemu dg keluarga mereka.

Susah sekali waktu itu krn pemerintah memberlakukan peraturan, hanya paramedis yg boleh masuk ke Aceh.

Alhamdulillah, setelah berjuang segenap kemampuan, aku pun bisa memberangkatkan pulang semua anak2 Aceh di UI ditambah bbrp relawan teman2 dekat ku.

Betapa saat itu adalah sebuah peristiwa yg tidak pernah terlupakan dlm perjalanan hidupku.

lihat lebih lanjut disini.

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: