Skip to content

Seabad Lebih Gugurnya Panglima Prang Besar Aceh

11 February, 2008
Ilustrasi: hack87

Teuku Umar yang bernama lengkap Teuku Umar Johan Pahlawan lahir di Meulaboh pada tahun 1854. Ayahnya bernama Achmad Mahmud yang berasal dari keturunan uleebalang Meulaboh.

Nenek moyang Teuku Umar berasal dari keturunan Minangkabau, yaitu Datuk Makudum Sati yang pernan berjasa terhadap Sultan Aceh, yang terancam oleh seorang Panglima Sagoe yang ingin merebut kekuasaanya. Datuk Makdum Sati mempunyai dua orang putera yaitu Nanta Setia dan Achmad Mahmud. Ketika masih kecil Umar, merupakan anak yang nakal tetapi sangat cerdas. Dia sangat suka berkelahi dengan teman sepermainannya.

Umar pernah diangkat sebagai Kepala Kelompok anak-anak yang ada di kampungnya. Setelah menginjak masa remaja sifat Umar mulai berubah. Jiwa kerakyatannya mulai timbul dalam dirinya dan ia mempunyai cita-cita dan rasa kemerdekaan yang meresap dalam tulang sumsumnya. Ketika perang Aceh meletus pada tahun 1873, Umar baru berumur 19 tahun. Umar belum ikut dalam perang ini disamping umurnya masih sangat belia dan juga jiwanya belum mantap, walaupun pada saat itu dia sudah diangkat menjadi Keuchik di daerah Daya Meulaboh.

Teuku Umar adalah pahlawan kemerdekaan Indonesia yang memimpin perang gerilya di Aceh semasa Pendudukan Belanda. Ia gugur saat pasukan Belanda melancarkan serangan mendadak di Meulaboh dan kini jasadnya dimakamkan di daerah Meugo. Kawasan terpencil yang berada didalam hutan, bila kita ingin berjiarah ke sana tentunya melalui kota Meulaboh ke Meugo ini membutuhkan satu jam perjalanan dengan kendaraan roda empat.

Adapun alasanya jasad Teuku Umar dikebumikan jauh dari kota karena tidak ingin jasad syahid ini, menjadi alat propaganda untuk meruntuhkan moral dan tekad perjuangan rakyat Aceh. Sehingga, jasad beliau sengaja disembunyikan dari intaian penjajah. Makam ini juga dilengkapi dengan balai-balai untuk pengunjung yang hendak melakukan ritual ibadah seperti tadarus atau shalat, dapur umum dan alat-alat masak secukupnya dan lapangan yang digunakan untuk upacara ketika memperingati hari Pahlawan setiap tanggal 10 Nopember.

Salah satu dari sekian banyak Pahlawan Nasional yang patut diteladani yaitu Teuku Umar. Dia merupakan seorang pahlawan pejuang melawan kolonialisme Belanda di Aceh yang berlangsung sejak 1873 hingga menjelang masuknya Jepang di Indonesia tahun 1942. Sedangkan perjuangan Teuku Umar berlangsung dari tahun 1875 – 1899.

Ketika umur 20 tahun, Umar menikah dengan Nyak Sopiah, anak Uleebalang Glumpang. Ia semakin dihormati dan disegani karena mempunyai sifat yang keras dan pantang menyerah dalam meyelesaikan setiap persoalan hidup.Untuk lebih menaikkan derajatnya, Umar menikah lagi dengan Nyak Malighai seorang putri dari Panglima Sagoe XXV Mukim. Mulai saat itu Umar memakai gelar Teuku dan bercita-cita untuk membebaskan daerahnya dari kekuasaan Belanda.

Umar tidak pernah memperoleh pendidikan sekolah seperti pemimpin-pemimpin lainnya, tetapi ia dapat menjadi pemimpin yang cakap, disiplin dan mempunyai kemajuan yang keras.

Setelah Teuku Ibrahim Lamnga gugur dalam perang melawan Belanda pada tahun 1878, isterinya (Cut Nyak Dhien) menjadi janda. Teuku Umar selalu memberi perhatian khusus kepada Cut Nyak Dhien. Sifat keprajuritan yang dimiliki oleh Cut Nyak Dhien yang membuat Teuku Umar diam-diam jatuh cinta terhadap Cut Nyak Dhien. Cut Nyak Dhien juga menyambut cinta dari Teuku Umar dan akhirnya mereka menikah.

Dari perkawian Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien melahirkan anak perempuan yang diberi nama Cut Gambang. Anak ini lahir di tempat pengungsian yang jauh dari kampung halamannya karena pada saat itu Teuku Umar sedang memimpin pertempuran melawan Belanda dan rumahnya yang ada di Montasik sudah dikuasai oleh Belanda.

Nama Teuku Umar mulai menjadi buah bibir dan terkenal diseluruh Iapisan masyarakat. Disamping itu juga memberikan latihan-latihan perang gerilya kepada calon-calon prajurit. Ia juga sibuk menghubungi para pemimpin rakyat lainnya untuk diajak berunding mengatur siasat perjuangan. Ia menentukan satu orang saja yang akan dijadikan pemimpin mereka dan kemudian menentukan pula waktu peperangan yang akan dilancarkan.

Cut Nyak Dhien

Di Sumedang tak banyak orang tahu perempuan ini. Tua renta dan bermata rabun. Pakaiannya lusuh, dan hanya itu saja yang melekat di tubuhnya. Sebuah tasbih tak lepas dari tangannya, juga sebuah periuk nasi dari tanah liat. Dia datang ke Sumedang bersama dua pengikutnya sebagai tahanan politik Belanda, yang ingin mengasingkannya dari medan perjuangannya di Aceh pada 11 Desember 1906.

Perempuan tua itu lalu dititipkan kepada Bupati Sumedang Pangeran Aria Suriaatmaja, yang digelari Pangeran Makkah. Melihat perempuan yang amat taat beragama itu, Bupati tak menempatkannya di penjara, tetapi di rumah H. Ilyas, seorang tokoh agama, di belakang Kaum (masjid besar Sumedang). Di rumah itulah perempuan itu tinggal dan dirawat.

Sebagai tahanan politik, perempuan yang kemudian oleh masyarakat digelari ibu Perbu (Ratu) itu, jarang keluar rumah. Tapi banyak sekali ibu dan anak setempat yang datang mengunjunginya, untuk belajar mengaji meskipun dalam keadaan mata yang sudah rabun –karena banyak sekali ayat suci yang dihafalnya. Kegiatan lain selain mengajar mengaji hanyalah berdzikir dan beribadah di sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Ia terus bertaqarrub kepada Sang Pencipta serta menikmatinya, seolah meninggalkan keinginan duniawi.

Di antara mereka yang datang banyak membawakan makanan atau pakaian, selain karena mereka menaruh hormat dan simpati yang besar, juga karena Ibu Perbu tak bersedia menerima apapun yang diberikan oleh Belanda.

Keadaan ini terus berlangsung hingga 6 November 1908, saat Ibu Perbu meninggal dunia. Dimakamkan secara hormat di Gunung Puyuh, sebuah komplek pemakaman para bangsawan pangeran Sumedang, tak jauh dari pusat kota Sumedang. Sampai wafatnya, masyarakat Sumedang belum tahu siapa sesungguhnya perempuan yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat itu, bahkan hingga kemerdekaan Indonesia.

Ketika masyarakat Sumedang beralih generasi dan melupakan Ibu Perbu, pada tahun 60-an berdasarkan keterangan dari pemerintah Belanda baru diketahui bahwa Cut Nyak Dhien, seorang pahlawan wanita Aceh yang terkenal telah diasingkan ke Pulau Jawa, Sumedang, Jawa Barat. Pengasingan itu berdasarkan Surat Keputusan No. 23 (Kolonial Verslag 1907:12). Akhirnya dengan mudah dapat dipastikan bahwa Ibu Perbu tak lain adalah Cut Nyak Dhien yang diasingkan Belanda bersama seorang panglima berusia 50 tahun dan seorang kemenakannya bernama Teungku Nana berusia 15 tahun.

Pada 2 Mei 1964, melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106, Cut Nyak Dhien ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, sebagai penghargaan terhadap jasa-jasanya yang besar. Makamnya kemudian dipugar dan dibangun sebuah meunansah (mushala) di dekatnya.

Cut Nyak Dhien lahir pada 1848 dari keluarga kalangan bangsawan yang sangat taat beragama. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia, uleebalang VI Mukim, bagian dari wilayah Sagi XXV. Leluhur dari pihak ayahnya, yaitu Panglima Nanta, adalah keturunan Sultan Aceh yang pada permulaan abad ke-17 merupakan wakil Ratu Tajjul Alam di Sumatra Barat. Ibunda Cut Nyak Dhien adalah putri uleebalang bangsawan Lampagar.

Sebagaimana lazimnya putri-putri bangsawan Aceh, sejak kecil Cut Nyak Dhien memperoleh pendidikan, khususnya pendidikan agama. Pendidikan ini selain diberikan orang tuanya, juga para guru agama. Pengetahuan mengenai rumah tangga, baik memasak maupun cara menghadapi atau melayani suami dan hal-hal yang menyangkut kehidupan sehari-hari, didapatkan dari ibunda dan kerabatnya. Karena pengaruh didikan agama yang amat kuat, didukung suasana lingkungannya, Cut Nyak Dhien memiliki sifat tabah, teguh pendirian dan tawakal.

Cut Nyak Dhien dibesarkan dalam lingkungan suasana perjuangan yang amat dahsyat, suasana perang Aceh. Sebuah peperangan yang panjang dan melelahkan. Parlawanan yang keras itu semata-mata dilandasi keyakinan agama serta perasaan benci yang mendalam dan meluap-luap kepada kaum kafir.

Cut Nyak Dhien dinikahkan oleh orang tuanya pada usia belia, yaitu tahun 1862 dengan Teuku Ibrahim Lamnga putra dari uleebalang Lam Nga XIII. Perayaan pernikahan dimeriahkan oleh kehadiran penyair terkenal Abdul Karim yang membawakan syair-syair bernafaskan agama dan mengagungkan perbuatan-perbuatan heroik sehingga dapat menggugah semangat bagi yang mendengarkannya, khususnya dalam rangka melawan kafir (Snouck Hourgronje, 1985: 107). Setelah dianggap mampu mengurus rumah tangga sendiri, pasangan tersebut pindah dari rumah orang tuanya. Selanjutnya kehidupan rumah tangganya berjalan baik dan harmonis. Mereka dikaruniai seorang anak laki-laki.

Ketika perang Aceh meletus tahun 1873, suami Cut Nyak Dhien turut aktif di garis depan sehingga merupakan tokoh peperangan di daerah VI Mukim. Karena itu Teuku Ibrahim jarang berkumpul dengan istri dan anaknya. Cut Nyak Dhien mengikhlaskan keterlibatan suaminya dalam peperangan, bahkan menjadi pendorong dan pembakar semangat juang suaminya. Untuk mengobati kerinduan pada suaminya yang berada jauh di medan perang, sambil membuai sang buah hatinya ia menyanyikan syair-syair yang menumbuhkan semangat perjuangan. Ketika sesekali suaminya pulang ke rumah, maka yang dibicarakan dan dilakukan Cut Nyak Dhien tak lain adalah hal-hal yang berkaitan dengan perlawanan terhadap kaum kafir Belanda.

Keterlibatan Cut Nyak Dhien dalam perang Aceh nampak sekali ketika terjadi pembakaran terhadap Mesjid Besar Aceh. Dengan amarah dan semangat yang menyala-nyala berserulah ia, “Hai sekalian mukmin yang bernama orang Aceh! Lihatlah! Saksikan sendiri dengan matamu mesjid kita dibakarnya! Mereka menentang Allah Subhanahuwataala, tempatmu beribadah dibinasakannya! Nama Allah dicemarkannya! Camkanlah itu! Janganlah kita melupakan budi si kafir yang serupa itu! Masih adakah orang Aceh yang suka mengampuni dosa si kafir yang serupa itu? Masih adakah orang Aceh yang suka menjadi budak Belanda?” (Szekely Lulofs, 1951:59).

Bertahun-tahun peperangan kian berkecamuk. Karena keunggulan Belanda dalam hal persenjataan dan adanya pengkhianatan satu per satu benteng pertahanan Aceh berjatuhan, termasuk Kuta (benteng) Lampadang. Karena terdesak Cut Nyak Dhien beserta keluarganya terpaksa mengungsi. Pada sebuah pertempuran di Sela Glee Tarun, Teuku Ibrahim Lamnga gugur, yang konon karena penghianatan Habib Abdurrahman.

Meski kematian suaminya menimbulkan kesedihan yang dalam bagi Cut Nyak Dhien, tapi ini tak membuatnya murung dan mengurung diri. Sebaliknya, semangat juangnya kian berkobar. Sebagai seorang janda yang masih muda dengan seorang anak, ia tetap ikut bergerilya melawan Belanda. Menurut orang yang dekat dengannya, Cut Nyak Dhien pernah bersumpah hanya akan menikah dengan orang yang turut membantunya melawan Belanda.

Kehadiran seorang figur seperti Teuku Umar yang juga adalah pemimpin perjuangan yang gagah berani, sangatlah berarti bagi rencana perjuangan Cut Nyak Dhien. Meski masih saudara sepupu, dia baru bertemu dengan Teuku Umar saat upacara pemakaman suaminya. Karena sama-sama terikat dalam Sabilillah maka pasangan ini kemudian menikah pada 1878.

Perlawanan terhadap Belanda kian hebat. Beberapa wilayah yang sudah dikuasai Belanda berhasil direbutnya. Dengan menikahi Cut Nyak Dhien mengakibatkan Teuku Umar kian mendapatkan dukungan. Meskipun telah mempunyai istri sebelumnya, Cut Nyak Dhien lah yang paling berpengaruh terhadap Teuku Umar. Perempuan inilah yang senantiasa membangkitkan semangat juangnya, mempengaruhi, mengekang tindakannya, sekaligus menghilangkan kebiasaan buruknya.

Selanjutnya Cut Nyak Dhien terpaksa meninggalkan Montasik, karena kepala Mukim menyerah pada Belanda. Pada saat itulah Cut Nyak Dhien melahirkan putrinya yang diberi namaTjoet Gambang yang kemudian dinikahkan dengan Teungku Di Buket, anak laki-laki Teuku Cik Di Tiro (ulama dan pejuang Aceh, juga merupakan salah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia). Anak dan menantu Cut Nyak Dhien ini pun gugur sebagai syuhada melawan Belanda.

Peristiwa menggegerkan yang dinamakan “Sandiwara Besar” terjadi ketika Teuku Umar melakukan sumpah setia pada Belanda. Ketika sudah mendapatkan berbagai fasilitas, Teuku Umar justru berbalik melawan Belanda. Kemarahan Belanda membuat Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar beserta para pengikutnya yang setia terpaksa memasuki hutan rimba. Dari belantara inilah Teuku Umar memimpin perlawanan.

Dalam sebuah serangan ke Meulaboh Teuku Umar tertembak pada 11 Februari 1899. Dengan tabah dan tawakal Cut Nyak Dhien menerima berita duka ini. Sepeninggal Teuku Umar, Cut Nyak Dhien memimpin langsung perlawanan.

Sejak meninggalnya Teuku Umar, selama 6 tahun Cut Nyak Dhien mengordinasikan serangan besar-besaran terhadap beberapa kedudukan Belanda. Segala barang berharga yang masih dimilikinya dikorbankan untuk mengisi kas peperangan. Lama-lama pasukan Cut Nyak Dhien melemah. Kehidupan putri bangsawan ini kian sengsara akibat selalu hidup di dalam hutan dengan makanan seadanya. Usianya kian lanjut, kesehatannya kian menurun. Tapi, ketika Pang Laot Ali, tangan kanan sekaligus panglimanya, menawarkan untuk menyerah sebagai jalan pembebasan dari kehidupan yang serba terpencil dan penuh penderitaan ini, Cut Nyak Dhien menjadi sangat marah. Pang Laot Ali tetap tak sampai hati melihat penderitaan pimpinannya. Akhirnya ia menghianatinya. Kepada Belanda ia melaporkan persembunyiannya dengan beberapa syarat, di antaranya jangan melakukan kekerasan dan harus menghormatinya.

Ketika tertangkap wanita yang sudah tak berdaya dan rabun ini, mengangkat kedua belah tangannya dengan sikap menentang. Dari mulutnya terucap kalimat, “Ya Allah ya Tuhan inikah nasib perjuanganku? Di dalam bulan puasa aku diserahkan kepada kafir”.

Cut Nyak Dhien marah luar biasa kepada Pang Laot Ali. Sedangkan kepada Letnan Van Vureen yang memimpin operasi penangkapan itu sikap menentang mujahidah ini masih nampak dengan mencabut rencong hendak menikamnya.

Penempatan Cut Nyak Dhien di Kutaraja mengundang kedatangan para pengikutnya. Karena khawatir masih bisa menggerakkan semangat perjuangan Aceh, Cut Nyak Dhien terpaksa dijatuhi hukuman pengasingan ke Pulau Jawa, yang berrati mengingkari salah satu butir perjanjiannya dengan Pang Laot Ali.

Perjuangan Cut Nyak Dhien menimbulkan rasa takjub para pakar sejarah asing, sehingga banyak buku yang melukiskan kehebatan pejuang wanita ini. Zentgraaff mengatakan, para wanita lah yang merupakan de leidster van het verzet (pemimpin perlawanan) terhadap Belanda dalam perang besar itu. Aceh mengenal Grandes Dames (wanita-wanita besar) yang memegang peranan penting dalam berbagai sektor.

Menjelang akhir hidupnya, di Sumedang, di daerah yang sangat asing baginya, Cut Nyak Dhien masih juga berperang dalam pertempuran lain, yakni perlawanan terhadap penjajahan kebodohan. Allahu Akbar. [Ida S. Widayanti/red]

Tulisan ini diangkat dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, lihat disini [Perang Aceh]. Foto : http://ricky70.multiply.com/, Ilustrasi : http://www.jagoan.or.id/
13 Comments leave one →
  1. Si Gam Aceh permalink
    6 March, 2008 12:46

    Saudara-saudara semua perlu tahu, bahwa Teuku Umar itu seorang pengkhianat! Walaupun pada akhirnya ia bertaubat…

    Gara-gara Teuku Umar memihak Belanda pada tahun 1893, Belanda berhasil merebut benteng-benteng Aceh di luar lini konsentrasi. Benteng-benteng tersebut direbut oleh Teuku Umar dan kemudian diserahkan kepada Belanda. Akibatnya Sagoe XXVI, Sagoe XXV, dan bahkan sebagian Sagoe XXII di Aceh Rayek dapat dikuasai Belanda, padahal itu semua adalah hasil kerja Teungku Chik di Tiro bersama pasukannya dari tahun 1880 sampai 1891.

    Silahkan baca buku Aceh Sepanjang Abad (Muhammad Said), De Atjeh Oorlog dan Teungku Chik di Tiro (Teungku Ismail Yakub).

    Kisah selanjutnya akan diceritakan…

  2. 6 March, 2008 15:43

    Oke dek Gam, lon tuan preh kireman buku Aceh Sepanjang Abad…
    “Aceh Lhee Sagoe”

  3. "mamak" permalink
    18 February, 2010 15:23

    Walau bagaimanapun Teuku Umar tetap Pahlawan, Keturunan Minang… jangan lupakan Sejarah…jangan dihilangkan jasa yang begitu banyak hanya untuk taktik sebuah Perang melawan Belanda.

    • 3 August, 2010 01:19

      sungguh taktik licin dari Teuku Umar itu luar biasa (banyak pro dan kontra), di antara kebimbangan akhirnya Umar memilih untuk memutuskan hubunan dengan Belanda dan akhir hayatnya berakhir di Meulaboh setelah perang melawan pemimpin perang Belanda van Veelt yang dikenal sangat keras.

  4. 18 February, 2012 17:28

    teuku umar , memang anak achmad mahmud dan achmad mahmud anak madum sati, tapimadum sati bukan orang minang dia keturunan lansung dari abdul rahim datuk sri maharaja lela melayu yang makamnya di sebelahmakam syahkuala.

    datuk maharelela tidak mau menjadi sultan,dan memberi kesultanan kepada anak yang sulung yaitu ahmadsyah dengan gelar sultan alaidin ahmadsyah, adindanya bernama pocut muhamad yang menjadiraja kecil di pedir, manakala adiknya bernama pocut sandang diberi kekuasaan di bawah sultan aceh pada tahun 1726 sebagai raja kecil di wilayah barat, selatan sampai daerah minang, kerana minang dibawah kekuasan aceh.

    dari sini lah keturunan pocut sandang memerintah dibawah kekuasaan sukltan aceh punya wilayah sendiri secara turun temurun.kakek nenek beliau seketurunan sultan aceh namun memakai gelar teuku kerana posisinya sebagai ulee balang.

    kami masih punya silsilah teukuumar dari 1726 sampai ke teuku umar.

    memang beliau pada awalnya berperang melawan belanda , dan berdamai dengan belanda setelah itu.dan ingin menjadi sultan aceh dengan gelar tuanku johan pahlawan.

    di perjalanan akhir beliau mendapat petunjuk allah dan akhirnya bertaubat menyatu dengan aceh kembali dan wafat sebagai syuhadah.

    allah pasti menerima hambanya setelah bertaubat.namun begitu beliau banyak jasa terhadap aceh dan juga belanda.

    • 18 February, 2012 18:53

      punya tulisan atau artikel lengkap tentang silsilah tersebut mungkin bisa dikirim ke kami lewat Facebook atau email

      • 21 February, 2012 12:12

        teuku umar bin t. achmad mahmud bin pocut daud ayahnya atau kakeknya kadli pocut djalal bin pocut sandang dan ayahnya sultan alaidin ahmadsyah bin abdulrahim datuk seri maharaja lela melayu bin tgk zainal abidin bin sultan mansyursyah atau daeng mansyur atau tgk chik dibugis, atau tgk chik direubee.

        tgk di reubee adalah ayah kepada sultan iskandar muda beristrikan puteri indera bangsa acucu sultan aceh saidil mukamil. dan tgk chik di juga ayah
        kepada tgk zainal abidin suaminya laksamana kumala hayati.tgk zainal abidin ini anak tgk chik reubee yang istrinya dari bugis.

        puteri sani adalah bayi yang di angkat dan di akui sebagai anak sendiri sejak bayi yang di ambil dari keluarga ulama setempat yang kelak besar dinikahkan oleh sultan iskandar muda.

        dengan ini maka hilang ke curigaan musuh-mush beliau yang meracuni beliau ketika beliau menjadi sultan aceh sultan mansyursyah atau sultan perak.

        salam

  5. 22 February, 2012 08:42

    sambungan,

    sultan mansyur perak ini menjadi sultan di 5 kerajaan pada waktu itu
    1. sultan di bintan
    2. sultan perak
    3. sultan di aceh
    4.sultan di padang
    5. raja di bugis

    itu saja.

  6. 10 July, 2012 21:41

    maju trus aceh akan budaya

    http://fizaldotcom.wordpress.com/image/

  7. t.b.syah permalink
    15 March, 2013 11:22

    ass wr wb pak sulaiman, sy mau tanya ttg pocut muhamad dlm silsilah anda itu sy juga punya indatu bernama pocut muhammad dari rigaih. apakah itu orang yang sama dgn pocut muhammad raja pedir? kemudian siapa nama asli pocut sandang?

    • 10 April, 2013 11:05

      ya, sultan alaidin ahmadsyah punya 3 putra
      putra pertama bernama sultan alaidin johansyah , putra kedua bernama pocut muhamad yg menjadi raja pedir, putra ketiga pocut sandang yg mempunyai wilayah barat, selatan sampai padang.hampir semua ulee balang barat selatan sampai padang dulu kekuasaan dipimpin oleh anak2 dan cucu 2 , pocut sandang, begitu juga raja trumon.sebab ada ulee balang yang diangkat untuk mengatur wilayah saja , ada juga ulee balang turun temurun tapi bukan raja, ada juga raja otonomi bawah sultan seperti trumon juga sebagai wazir sultan (tapi tidak di istana sultan, menjadi wazir sultan pada wilayah otonominya, begitu juga pedir merupakan wazir sultan namun di wilayah otonominya saja.aceh ada 101 raja kecil, ulee balang dan ulee balabg yang di angkat. raja otonomi yang menjadi wazir sultan diwilayah nya hanya 2 wilayah yang pertama wilayah pedir dan trumon.kerana keturunan dari pocut muhamad dan sandang yang sulong atau anak pertama, anak2 berikutnya di kasi wilayahnya masing2 di bawah wazir wilayahnya.

      tidak semua ulee balang itu raja daerah yang langsung dibawah sultan, lain2 seperti 99 ulee balang di bawah 3 mukim yaitu 22,25 dan 26.

      dan ,mukim 22,25,26 tunduk dibawah sultan, termasuk 99 raja/ulee balang dan 2 wazir sultan wilayah otonomi.

      setiap raja2 ulee balang kecil harus di tunjuk oleh keluarga masing2 menjadi penerus dan di sahkan oleh panglima sago sesuai dengan mukimnya,sedangkan 2 mukimnya aja cukup merestuinya aja, setelah itu pengankatan sultan, dan panglima sago menyerahkan daulatnya ke sultan juga 101 raja kecil, bersama juga mufti dan ulama2nyanya.

      pemilihan ini raja2 kecil harus dari anak pertama dahulu, sekiranya tidak sanggup maka di gantikan oleh putranya atau adiknya. begitu juga panglima sago. setelah di tunjuk baru di adakan adat istiadat penobatan raja2 kecil yang di sah kan oleh panglima sago.

      panglima sago juga akan di nobatkan oleh sultan tapi harus ditunjuk oleh pewaris keluarga.setelah mengangkat sultan, setelah itu sultan akan menobatkan panglima sago.

      sultan di nobatkan mengikut hukum kanun meukuta alam, wajib jelas mengetahui sultan yang di makzulkan dan wafat. warisnnya adalah anak pertama kecuali anak pertama tidak sanggup, jika masih kecil harus ada pemangku, dan pemangku tidak bisa menjadi sultan dalam apa syarat sekalipun.

      harus jelas turun temurun adalah sultan.

      menjadi sultan wajib membayar mas 32 kati emas murni. dan 16 ribu ringgit aceh dulu.
      dan lain2

      begitu menurut saya syarat2 menjadi sago, raja kecil, ulee balang dan sultan pada waktu dulu di kesultanan aceh darussalam.

      sama hormat

      sulaiman.

  8. 16 March, 2014 17:05

    wow bagus sekali yaa kalau kisah teuku umar di filmkan pasti sukses

  9. 16 March, 2014 17:06

    kalau ada yang punya foto teuku umar dan keluargaanya boleh dong, apalagi kalau ada buku lama yang menceritaka tentang teuku umar, di tunggu nich di tunggu banget lagi riset teuku umar

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: