Skip to content

Madrasah Ketinggalan Zaman

24 July, 2008

Konsultan Sekolah Internasional Departemen Agama Muhammad Firdaus menyatakan madrasah sangat ketinggalan jika dibandingkan dengan sekolah formal. “Madrasah tenggelam, tak bisa mengikuti kemajuan teknologi,” ujar dia dalam seminar bertema Pendidikan Madrasah dan Tantangan Dunia Global di Mahkamah Konstitusi, Rabu (23/7).

Menurut dia, ketertinggalan diakibatkan manajemen madrasah yang buruk, kemampuan finansial yang tidak memadai, minimnya kompetensi guru dan kompetensi murid. “Masih ada guru madrasah yang digaji Rp 60 ribu perbulannya, bagaimana bisa mengajar dengan baik jika tidak dihargai dengan baik pula,” kata dia.

Untuk meningkatkan kompetensi madrasah, ia melanjutkan, harus ada reformasi terutama di tingkatan manajemen yang selama ini kebanyakan menganut asas primordialisme. Akibatnya jalannya madrasah tidak profesional. Pimpinan madrasah, ujar dia, hendaknya dipilih berdasarkan kemampuan untuk mengemban amanah.

“Tidak bisa bicara globalisasi jika madrasah belum dimodernisasi,” tegas dia. Pendidikan yang diajarkan di madrasah, tambahnya, juga harus dijauhkan dari klenik dan mistik.

Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta, Basuki Wibowo yang juga hadir sebagai pembicara menyatakan madrasah harus memilih orientasi pendidikan, hendak mengirimkan siswa ke bangku perguruan tinggi seperti Sekolah Menengah Atas atau mengirimkan siswa ke dunia kerja seperti Sekolah Menengah Kejuruan.

“Jika berorientasi kerja, selain mendidik mata pelajaran wajib, siswa madrasah sebaiknya dilengkapi dengan pendidikan keterampilan dan kepemimpinan,” katanya.

Saat ini di Indonesia, ada 38 ribu madrasah dengan jumlah siswa mencapai 5,5 juta orang. “Madrasah meluluskan 200 ribu siswa setiap tahun, tapi tak sampai 10 persen yang melanjutkan kuliah,” ujarnya.

Kusumo Priyono, pendongeng yang juga pemerhati dunia anak menambahkan sudah saatnya proses belajar di madrasah diganti. Jarang sekali madrasah menerapkan proses belajar kreatif, bahkan metodenya cenderung satu arah. “Guru harus kompeten, kreatif tidak berarti mahal, misalnya dengan mendongeng,” katanya.[tempo]

3 Comments leave one →
  1. 28 July, 2008 14:19

    salam,

    Kita2 mencoba mengangkat citra Madrasah, dari sekolah marginal ke sekolah ‘modern’ dan berdaya saing. Semoga berdampak pada citra pendidikan secara menyeluruh bangsa ini. Amien…

    wassalaam,

  2. SAYID RIDHO permalink
    28 January, 2009 15:01

    salam..

    sebagai salah satu pengajar di madrasah di Jakarta Timur saya memang merasa harus ada pembenahan di madrasah. Sebab dalam sejarahnya, pendidikan di Indonesia di mulai di madrasah, khususnya di langgar. mudah2an dalam waktu dekat ada perimbangan citra dan kompetensi antara madrasah dengan sekolah umur. Semoga..

    Amiin..

    • kharda permalink
      29 January, 2009 13:01

      Amiin..

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: