Skip to content

Orator Cilik Penafsir Ayat Al Quran

6 August, 2008

Air mata tidak selalu identik dengan kecengengan dan kekanak-kanakan. Rasulullah SAW pun menangis setelah seperti tiga malam terakhir saat dijemput Bilal untuk mengimami shalat subuh, dan gara-gara air mata tulus pula seorang pemuda yang menyesali dosa-dosanya diharamkan masuk neraka.

Dalam even penutupan MTQ III Kota Langsa yang berakhir Minggu ( 3/8 ) malam lalu, seorang orator cilik penafsir ayat al Quran telah mampu menggugah semua hadirin yang hadir, sehingga banyak yang menumpahkan air mata tulusnya demi mengingat jasa kedua orang tua.

Orator cilik itu adalah Iqbal, siswa SMP Negeri 1 Langsa. Dia bersama dua kawannya masing-masing Fadhil dan Khairun Nisa keduanya murid MIN Pilot Paya Bujok Langsa kelas 6 dan kelas 5, diminta tampil oleh panitia pada malam penutupan karena berhasil keluar sebagai juara I dalam perlombaan cabang Syarhil Quran mewakili Desa Gampong Blang dalam even tersebut. Fadhil membaca ayat 23 dan 24 surah Al Isra’, sementara Khairun Nisa membaca saritilawahnya.

Sejak Iqbal dengan gaya oratornya yang menggugah mulai membuka pidatonya dengan judul syarahan tentang “Berbakti Kepada Orang Tua” langsung dibuat terkesima semua para hadirin. Kemudian disambung dengan pembacaan ayat al Quran yang mendayu-dayu dan disusul dengan pembacaan artinya oleh gadis cilik Khairun Nisa dengan gaya deklamatornya yang memukau.

Ketiga anggota cilik tim Syarhil itu tampil penuh penghayatan. Iqbal yang bertindak sebagai orator menguraikan kenapa Allah mewajibkan berbakti kepada orang tua berada di urutan kedua setelah menyembah Allah dengan tidak melakukan kesyirikan.

Itu artinya, kata dia, antara lain karena tidak ada yang lebih berjasa dalam hidup setiap orang di bumi ini selain kedua orang tua masing-masing. Lalu dengan kekuatan daya imajinatifnya Iqbal pun menjelaskan lebih lanjut tentang suka dan duka seorang ibu dan ayah dalam membesarkan anak-anaknya.

Seraya mengutip sebuah hadist Rasulullah, Iqbal kemudian melanjutkan tafsirnya pada kedua ayat itu yang antara lain tidak boleh bertindak kasar kepeda mereka berdua. “Janganlah menyakiti hati mereka dalam bentuk apapun, bahkan untuk mengatakan ‘ah’ saja tidak boleh,” ujarnya karena ini tuntunan langsung dari Allah SWT.

Karena cara Iqbal menyampaikannya sesuai intonasi yang menghiba, ditambah lagi dengan penghayatan yang mendalam, sehingga dia sendiri pun sempat mengeluarkan air mata, demikian juga dua temannya.

Puncak keharuan hingga menjalar kepada semua hadirin ketika ketiganya memanjatkan doa secara bersama-sama dengan membacakan bagian terakhir ayat 24 surah Al Isra’, sehingga tidak tidak terbendung banyak penonton ikut larut dan mengeluarkan airmata.

Air mata yang keluar saat itu, baik dari ketiga anggota tim Syarhil Quran tersebut maupun dari para penonton semua air mata tulus untuk menyayangi kedua orang tua masing-masing. Bukan karena rasa gembira mendapat juara atau karena sedih tidak bisa menjadi pemenang. Barangkali itulah karena air mata tulus, mereka pun diputuskan dewan juri untuk berhak mendapat juara I dalan lomba tersebut.[waspada]

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: