Skip to content

Jejak Kekerasan di Kampus

30 November, 2008
Tawuran

Ilustrasi by goenrock

Bentrok antarmahasiswa kembali terjadi di Universitas Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, pada 17 November lalu. Terik matahari seolah menjadi saksi atas insiden yang melibatkan mahasiswa fakultas hukum dan mahasiswa Politeknik Negeri Kupang.

Ketegangan dua kelompok mahasiswa itu dipicu saling ejek yang bermuara pada salah paham. Emosi akhirnya memuncak dan berujung pada tawuran. Ketika itu mahasiswa teknik dipukul mundur. Situasi semakin panas saat mahasiswa teknik balik menyerang. Perang batu pun tak terhindarkan. Sementara aksi saling serang terjadi silih berganti.

Hujan batu akhirnya membuat salah seorang mahasiswa terluka. Namun, hal itu tak mampu menghentikan pertikaian. Situasi justru semakin keruh. Tawuran kembali pecah di tengah taman kampus. Bahkan, fasilitas kampus menjadi sasaran kemarahan dua kelompok mahasiswa tersebut.

Tiga regu Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Kupang berupaya melerai tawuran. Namun, jumlah yang tak seimbang membuat polisi kewalahan. Kedua kubu terus saling lempar. Hal ini membuat kesabaran polisi habis dan memicu aparat bertindak keras. Tapi hal itu justru menuai protes.

Aksi saling lempar mengakibatkan kaca jendela di kedua gedung kampus hancur. Kendaraan polisi pun tak luput dari amuk mahasiswa. Polisi akhirnya mencari jalan tengah dengan mempertemukan pimpinan dari kedua kampus. Saat negosiasi berlangsung, salah satu kubu memblokade jalan utama menuju kampus. Tawuran pun kembali pecah.

Terhitung insiden ini berlangsung selama tiga jam. Korban juga terus berjatuhan. Dua polisi luka dilempar batu. Sementara delapan mahasiswa terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang. Duka semakin dalam ketika Secillia Radja, mahasiswi FISIP Universitas Cendana meninggal. Ia menderita shock berat karena terjebak dalam massa yang tawuran.

Suasana haru pun tak terbendung saat keluarga dan kerabat memberikan penghormatan terakhir pada Secillia. Penyebab kematian buah hati pasangan Melky Radja dan Erika Panjaitan ini sempat simpang-siur. Sementara kedua pihak perguruan tinggi kembali bertemu. Mereka sepakat membatasi akses kedua kampus dengan tembok tinggi. ♦ Tim Buser SCTV

3 Comments leave one →
  1. 1 December, 2008 16:59

    hari gini masih lempar batu sembunyi tangan, medin lempar tulisan tunjukkin dirimu..

  2. onwalskinov permalink
    5 May, 2009 13:33

    dulu, mahasiswa lempar tombak buat usir belanda,..
    sekarang, lempar batu buat unjuk gigi,…
    itu artinya KEMUNDURAN… alias B.O.D.O.H kwadrat..

Trackbacks

  1. Jejak Kekerasan di Kampus

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: