Skip to content

2 Tahun Berjuang Melawan Kanker Payudara

19 December, 2008

Setelah lebih dari satu minggu, pendarahan kanker di payudaranya belum juga diobati. Diatas tikar ukuran 2×4 meter, wanita paruh baya bernama Miah Satinah (40) warga Jalan Kusnan No 25, Kotamadya Cirebon tampak tergolek lemas di ruang singgah RS Hasan Sadikin Bandung.

Sehelai kain selimut coklat menjadi salah satu alat baginya untuk menahan hawa dingin ubin yang terbuat dari keramik. Sementara itu, Rosidin (44) suaminya, dengan setia dan telaten merawatnya meski rintih kesakitan Miah terdengar cukup membisingkan telinga.

Pendarahan pada bagian payudara sebelah kiri Miah, yang diakibatkan luka dari benjolan kanker, membuat pihak rumah sakit daerah Cirebon tidak sanggup untuk mengobati dan merujuknya ke RSHS Bandung.

Dengan berbekal kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), Ia bersama suaminya Rosidin (44), memberanikan diri untuk pergi ke kota kembang Bandung demi menyembuhkan penyakitnya yang diderita sejak dua tahun lalu.

Himpitan ekonomi dan ditambah jarak tempat tinggalnya yang cukup jauh, menjadi alasan utama baginya untuk menginap di ruang singgah rumah sakit. Namun karena berbelit-belitnya proses administrasi, harapan Miah dapat cepat diobati sirna sudah dari pikiranya.

“Sudah satu minggu istri saya disini, baru diperiksa darah saja belum ada tindakan pengobatan terhadap penyakitnya. Bahkan istri saya terpaksa menutupi pendarahan kanker di payudaranya dengan menggunakan pembalut wanita,” keluh Rosidin.

Ayah dua anak itu menceritakan, dua tahun silam, istrinya sudah merasakan benjolan di sebelah kiri payudaranya. Namun karena ketidak tahuan, pasangan suami istri itu tidak menyadari kalau benjolan tersebut merupakan tumor ganas.

“Kami baru mengetahuinya saat ada pengobatan gratis yang dilakukan oleh pihak puskesmas kelingling ke kampung saya. Mereka langsung menyuruh untuk secepatnya diobati ke rumah sakit daerah,” kisahnya.

Namun karena tidak memiliki biaya, Rosidin terpaksa menunda pengobatan istrinya. Apalagi saat itu usaha toko bangunan miliknya baru saja gulung tikar. “Saya tidak menyangka bila akhirnya benjolan di payudara istri saya pecah dan menimbulkan pendarahan,” tuturnya.

Setelah kejadian itu, Dia berusaha untuk mengobati istrinya dengan meminta bantuan aparat pemerintah setempat dengan dibuatkan kartu jamkesmas atau yang lebih dikenal dengan askeskin. ♦ vivanews

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: