Skip to content

Aceh Air Siap Beroperasi Januari Mendatang

21 December, 2008

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Aceh, Prof Dr Ir Yuwaldi Away MSc menginformasikan, operasional penerbangan pesawat terbang PT AcehAir akan dimulai Januari 2009. Pesawat yang akan digunakan adalah jenis pesawat berbadan sedang ATP (Advanced Turbo Prop) 42-500 buatan British Aerospace, Inggris.

“Saat ini pesawat AcehAir jenis ATP baling-baling dua dengan jumlah 72 tempat duduk buatan Inggris itu sedang pengecatan lambang AcehAir pada bodi pesawat. Juga sedang dilakukan pengecekan mesin serta peralatan pengamanan penumpang di bengkel penerbangannya di Manila, Filipina,” kata Yuwaldi kepada Serambi, Jumat (19/12).

Pesawat AcehAir tersebut, kata Yuwaldi dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blang Bintang, Aceh Besar, pada minggu pertama Januari 2009. “Ini disebabkan, pekerja di bengkel pesawat ATP buatan Inggris di Manila, baru bisa menyelesaikan pekerjaannya setelah Natal 25 Desember 2008,” ujar Yuwaldi.

Dalam operasi penerbangannya nanti, PT AcehAir akan menggunakan izin AOC Avia Star, sebuah perusahaan maskapai penerbangan swasta dari Malaysia, yang sudah lama beroperasi di Indonesia. Langkah ini ditempuh selain karena kepemilikan saham dari PT Aceh Air yaitu 49 persen Able Sky (perusahaan dari Malaysia) dan 51 persen pengusaha lokal yang tergabung dalam Perusahaan Daerah Pembangunan Aceh (PDPA), juga dimaksudkan supaya operasi penerbangan pesawat Aceh Air bisa cepat dilakukan.

Karena, kata Yuwaldi, jika menunggu izin Air Operation Certificat (AOC) PT AcehAir ke luar dulu, baru pesawatnya dioperasikan, maka operasional akan bisa direalisasikan paling cepat tiga bulan mendatang. “Jadi, sambil menunggu izin AOC-nya ke luar dari Menteri Perhubungan, diambil kebijakan menggunakan izin AOC Avia Star,” ungkapnya.

Rute dibagi dua jalur

Base camp pesawat AcehAir nantinya, lanjut Yuwaldi, di Bandara SIM Blang Bintang, bukan di Bandara Pulonia, Medan. Rute penerbangannya dibagi dua jalur.

Jalur pertama untuk penerbangan luar yaitu Banda Aceh-Medan-Nias- Padang. Sedangkan untuk jalur kedua, penerbangan lokal Banda Aceh-Sinabang.

Rute penerbangan Medan-Nias-Padang, menurut Yuwaldi diambil karena jalur penerbangan itu berdasarkan analisa bisnis penerbangan udara jarak dekat di Pulau Sumatera, merupakan jalur gemuk dan mampu mengisi seluruh seat pesawat AcehAir yang berjumlah 72 kursi.

Sedangkan untuk jalur penerbangan lokal atau antarkabupaten yang akan dibuka pada tahap awal ini adalah Banda Aceh-Sinabang. Jalur ini dibuka dengan pertimbangan karena jumlah penumpangnya relatif lebih banyak dan mampu memenuhi seat pesawat. Untuk rute lainnya juga akan dibuka setelah jumlah pesawat yang dimiliki PT AcehAir bertambah menjadi 3 sampai 5 unit.

Pada operasi perdananya––minggu pertama Januari 2009––akan dioperasikan satu pesawat dan ditambah satu lagi pada bulan kedua. Total pesawat yang akan dioperasikan sampai bulan ketiga sebanyak tiga unit.

Dijelaskan Yuwaldi, setelah jumlah pesawat AcehAir menjadi tiga unit pada bulan ketiga, barulah akan dibuka jalur tambahan penerbangan regional antara kabupaten/kota yang telah memiliki bandara. Misalnya, ke Nagan Raya, Abdya, Bener Meriah, Aceh Singkil, dan Sabang dengan harga tiket yang rasional. Sebanyak 11 bandara yang ada di Aceh saat ini siap operasi dan akan menjadi rute penerbangan AcehAir.

Target investor

Ide pembentukan perusahaan penerbangan baru di Aceh pascatsunami dan MoU Helsinki yang diberi nama PT AcehAir itu, ungkap Yuwaldi, awalnya datang dari Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf.

Menurut Yuwaldi, pada sebuah pertemuan dengan pelaku usaha di Aceh, Irwandi mengatakan, untuk mempercepat pembangunan ekonomi dan mendatangkan investor asing ke Aceh, perlu membuat perusahaan penerbangan baru yang dikelola secara profesional dan punya jaringan ke luar negeri.

“Ide Pak Gubernur itu disahuti sejumlah pengusaha lokal dengan mengumpulkan dana dan kini mereka sudah menyetornya. Untuk setoran pertama dilakukan penyandang dana dari Malaysia, sebesar 100.000 dolar AS dan penyetoran kedua dari pengusaha Aceh mencapai 150.000 dolar AS. Total dana yang telah disetor Rp 2,8 miliar,” kata Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, Informasi dan Telematika Aceh.

Dengan adanya penyetoran dana awal itu, kata Yuwaldi, PT AcehAir sudah bisa melakukan kontrak sewa beli pesawat ATP buatan Inggris dengan sebuah perusahaan penerbangan di Manila, Filipina. Target sewa belinya tahap pertama tiga unit dengan jangka waktu tiga bulan, tiap bulan diberikan satu unit pesawat.

Juga dijelaskan, setelah pesawat AcehAir nantinya beroperasi, bisa menambah keyakinan dan semangat investasi pengusaha lokal untuk menanamkan modalnya di PT AcehAir, sehingga jumlah modal yang dimiliki akan bertambah. Setelah modal bertambah, maka pada tahap kedua PT AcehAir akan menyewa atau membeli pesawat kecil dengan kapasitas 12 kursi, seperti yang dioperasikan Susi Air atau jenis MAF milik Pemerintah Papua yang kini mengambil rute penerbangan Polonia-Nagan Raya-Sinabang. ♦ serambinews

5 Comments leave one →
  1. 14 February, 2009 17:36

    yang bener ajalah pak kepala dinas,ngak bohongkan…sekarang banyak KPK.

  2. noname permalink
    2 June, 2009 12:14

    sayang…. ternyata sampai saat ini belum terealisasi

    • 2 June, 2009 12:48

      itulah kerja cuma bisa ngomong doang!

  3. dedy aceh permalink
    26 April, 2010 16:20

    Assallamualaikum, sebelumnya saya minta maaf.Sebagai rakyat aceh saya menginginkan ACEH AIR segera cepat dioperasikan sehubungan dengan kebutuhan masyarakat, baik itu aceh juga dari seluruh indonesia maupun juga internsional.Dan maskapai penerbangan atau pesawat agar ditambah sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kalau bisa belilah pesawat yang baru dan jangan pesawat bekas! Baik itu pesawat AIRBUSH ataupun pesawat lainnya.Saya mohon kepada bapak – bapak sekiranya mau mendengar apa yang ada di dalam hati saya, terutama yang ada di pusat (jakarta) jangan ngomong doang juga korupsi yang yang di besar – besarkan, apalagi pajak! SAYA SEBAGAI RAKYAT ACEH MENGINGINKAN PERSEMAKMURAN DI TANAH RENCONG harus betul – betul segera tercapai.

    • 28 April, 2010 22:17

      setuju, masalah maskapai padahal ini hak Aceh sendiri, tanpa harus ada persetujuan dari pusat. Kita tunggu saya, Aceh sedang pembibitan calon pilot, semoga dua atau tiga tahun ke depan Aceh sudah punya pilot sendiri.

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: