Skip to content

AS Akhirnya Bersuara Atas Nasib Rohingya

9 February, 2009

Setelah bungkam bepuluh tahun, Amerika Serikat (AS) pada 8 Januari lalu akhirnya mendesak negara di Asia Tenggara, Myanmar untuk menghentikan tindakan diskriminasi sewenang-wenang terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.

“AS sangat prihatin dengan pengungsian etnis Rohingya dari Myanmar akibat tindakan represif,” ujar Asisten Menlu, Richard Boucher.

“Ini masalah kepedulian, dan AS ingin Myanmar menghentikan tindakan represif terhadap orang-orang Rohingya,” ujarnya

Situasi Rohingya telah menjadi headline internasional sejak 400 etnis tersebut mendarat di pantai Indonesia dengan dua perahu terpisah lebih dari sebulan lalu.

Dua perahu tersebut diyakini, merupakan bagian 9 perahu yang mengangkut 1.200 Rohingya–yang diduga mendarat di pantai Thailand akhir tahun lalu.

Pemerintah Thailand juga dilaporkan memukuli mereka dan membuang sebanyak 10 perahu kayu berisi ratusan orang Rohingya tanpa motor listrik penggerak, layar, dan bekal serta peralatan ke laut lepas.

Mereka membawa luka yang mereka akui diperoleh akibat pukulan tongkat kayu dan popor senjata.

Lebih dari 550 Muslim Rohingya takut bakal tenggelam dua bulan lalu setelah dihalau dan diusir ke laut tanpa perbekalan oleh militer Thailand

Selain dua perahu datang ke Indonesia, tiga lainya menepi di India, dan satu di Thailand. Sementara tiga perahu lain tidak diketahui hingga sekarang.

Banyak orang-orang Rohingnya yang bertahan dan selamat mengatakan mereka meninggalkan kampung halaman di barat Myanmar, Arakan, karena dipaksa untuk memeluk Budha.

Mereka menuding aparat militer di negara bermayoritas agama Budha itu memotong jari mereka jika orang-orang Rohingya tetap mencoba beribadah,

Etnis tersebut diyakini merupakan keturunan Arab dan negara-negara Muslim pedagang lain yang berpindah dan menetap di area tersebut lebih dari 1.000 tahun lalu.

Diperkirakan saat ini populasi Rohingya mencapai lebih dari 5 % dari populasi total 50 juta penduduk di Myanmar. Mereka sebagian besar tinggal di negara bagian utara, Rakhine, salah satu negara bagian termiskin dan terisolasi.

Hak kewarganegaraan etnis Rohingya tak diakui sejak diberlakukan amandemen undang-undang kewarganegaraan baru pada 1982.

Mereka lantas diperlakukan sebagai imigran ilegal di rumah sendiri dan diharuskan mendapat ijin resmi jika ingin berpindah atau sekedar berpergian ke kota lain.

Tak hanya itu, etnis Rohingya juga disyaratkan memperoleh ijin resmi bila hendak menikah, dan persetujuan pernikahaan bisa jadi dikeluarkan dalam waktu dua tahun atau lebih. Setiap pasangan pun harus menandatangani komitmen untuk tidak memiliki anak lebih dari dua.

Pelecehan, dan tindakan represif berkelanjutan itu akhirnya memaksa etnis Muslim Rohingya meninggalkan Myanmar.

Menurut laporan dari Bangladesh ada sekitar 200 ribu etnis Rohingya yang kini tinggal secara ilegal di negara tersebut, selain yang tinggal dalam 21 ribu perumaah pengungsi PBB.

Diperkirakan sekitar 100 ribu orang Rohingya kini tinggal di Malaysia, dan hanya 10 ribu orang yang terdaftar sebagai pengungsi di lembaga Komisi Pengungisian PBB (UNHCR). | republika

Share/Save/Bookmark

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: