Skip to content

Da’i Perbatasan dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat di Aceh

13 April, 2009

Oleh Malim Sempurna*

Nanggroe Aceh Darussalam merupakan salah satu kawasan di Asia yang memiliki berbagai Qanun tentang Syari’at Islam.

Hingga sampai saat ini, Syari’at Islam itu sendiri ada yang sudah berjalan dengan benar, dan ada yang masih dalam tahap awal.

Bila melirik dari administrasi pemerintahan Aceh terdapat beberapa instansi yang membidangi khusus tentang Syari’at Islam. hal ini bisa dilihat dari lembaga ke islaman yang ada di sana, seperti polisi Syari’at Islam, lembaga adat, da’i perbatasan dan lainnya.

Hal yang sangat menarik di sana adalah da’i perbatasaan. Meraka memiliki tugas kusus dalam menjalankan amanah Allah SWT. Kegiatan yang terpuji ini bertujuan untuk memahamkan dan mempertebal aqidah penduduk yang tinggal di perbatasan tersebut.

Tugas mereka mengajak orang-orang kepada jalan yang benar, mengadakan pengajian bagi kaum bapak dan kaum ibu serta para anak muda setempat. Para da’i tersebut juga harus mengusai berbagai persoalan apalagi jika harus berhadapan dengan warga yang di luar islam, sudah tentu di butuhkan kebijakan yang mulia sehingga para non muslim yang tinggal di perbatasan ini tertarik kepada ajaran islam dengan hati yang ikhlas.

Menegakkan agama Allah memang banyak tantangan dan rintangan yang akan dihadapi, apalagi wilayah perbatasan merupakan daerah rawan kristenisasi dan missionaris lainya.

Hal ini terbukti di salah satu pesantren yang terletak di kota Subulussalam, pada suatu ketika di mana salah seorang pendatang yang mengaku dirinya beragama islam, sehingga sempat diangkat sebagai ustadz atau staf pengajar.

Akhirnya setelah beberapa bulan mengajar, maka diketahui status orang tersebut non muslim yang ingin mengelabui pesantren dan menjalankan misinya di sana. Inilah salah satu yang perlu dibentengi terhadap penduduk yang tinggal di wilyah perbatasan tersebut.

Bila membaca sejarah para ulama terdahulu, dalam menegakkan agama Allah sangat banyak tantangan dan ringatang serta makian yang mereka hadapi. Begitu juga dengan para da’i yang bertugas di perbatasan ini, mereka banyak mendapat teror dan ancaman di berbagai tempat. Apalagi masyarakat yang belum mengerti akan agama, hal ini sangat mungkin terjadi.

Sebagai contoh, ketika para da’i berceramah di masjid, sekelompok pemuda bereteriak keras dari laur, dengan menunjukkan ketidak senangan mereka akan hal demikian.

Hal yang serupa juga terjadi pada da’i yang lain, misalnya di wilayah Kota Subulussam. Orang yang tak dikenal meletakkan botol minuman keras di depan pintu rumah da’i, plus surat peringatan, tapi maklum saja di mana ada orang baik, pasti ada yang jahat.

Maka dalam hal inilah, para da’i tersebut sebelum turun kelapangan diberi bekal dan metode dalam bermasyarakat, serta pemahaman dan penjelasan bagaimana tugas seorang da’i. lebih-lebih lagi bila di tempatkan di wilayah yang penduduknya masih sangat awam tentang nilai-nilai islam..

Untuk lebih mempercepat kinerja para da’i perbatasan tersebut, sarana transportasi seperti honda bebek juga disediakan bagi mareka. Sehingga tugas dan amanah yang mereka laksanakan berjalan dengan cepat dan mencapai target yang di inginkan,

hingga saat ini, para da’i perbatasan tersebut mendapat simpati yang luar biasa dari masyarakat, karena mereka bekerja full time baik pagi, siang, maupun malam hari. Apalagi kehadiran para penda’i di kampung-kampung akan sangat membantu para ustadz, guru, serta imam dan tokoh masyarakat yang ada di sana.

Para masyarakat banyak yang berkomentar, bahwa anak-anak mereka telah berubah dari hasil didikan dan bimbingan para da’i tersebut. Apalagi mereka yang telah di islamkan, bahkan bagi yang tidak mampu, langsung dapat melanjutkan pendidikan secara gratis dari pemda setempat yang dibiayai oleh Badan Amal Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS).

Hingga sampai saat ini, sudah banyak para muallaf yang dihasilkan dari kinerja para da’i perbatasan tersebut dan jumlahnya sudah mencapai ratusan bahkan hampir ribuan, jumlah ini hanya baru di wilayah kota Subulussalam dan Aceh Singkil saja.

Da’i perbatasan ini memang jarang terdengar, bahkan di telinga rakyat Aceh sendiri, karena mereka bertugas hanya di daerah yang berbatasan langsung dengan Sumtera Utara (SUMUT). Jadi, mereka hanya lebih dikenal oleh orang yang tinggal di perbatasan Aceh saja.

Daerah yang berbatasan langsung dengan propinsi Sumatra Utara tersebut yaitu Kabupaten Aceh Singkil, Kota Subulussalam, Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Tamiang. Empat kabupaten kota inilah para da’i tersebut ditugaskan dan mareka biasanya mendapat kontrak dua tahun. Setelah masa kontrak selesai, maka bisa mengajukan tes ulang bila ingin melanjutkan kinerja sebagai da’i untuk tahun berikutnya.

* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Al-Azhar Cairo/Aktivis World Acehnese Association (WAA). YM (malim_sempurna2)

One Comment leave one →
  1. ayeart permalink
    21 April, 2009 11:26

    terimoeng genaseh
    ats beritanya
    kami sendiri yg di aceh kurang tau tentang Dai perbatasan…
    bagaimana yanga dikota yang lupa akan agama ,,,,,,”apakah perlu dai kota,,,”
    pemerintah janga hanya diam tentang penegakan syaria di nanggroe”

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: