Skip to content

Perilaku Masyarakat Aceh Sudah Hedonis

7 September, 2009

Perilaku hedonisme dalam masyarakat Aceh makin kental terasa. Pengaruh budaya tersebut di masyarakat dapat dilihat dalam perilaku, sikap dan cara berpikir. Pada sisi lain, masyarakat ingin menjunjung tinggi berlakunya syariat Islam di Aceh.

“Fenomena ini tengah berlaku secara massif, sehingga semakin mengaburkan nilai-nilai adat istiadat keacehan yang sudah mendarah daging,” ungkap Djuniat, kepala Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Banda Aceh, tadi malam.

Dia menjelaskan, perilaku yang dia maksudkan itu seperti budaya meuroh-roh (ikut-ikutan), meuruet-ruet (bersimpul tak jelas pangkal dan ujungnya), meuron-ron (ikut-ikutan kemana yang ramai, padahal tak jelas juntrungnya) dan meureuk-ruk (ikut-ikutan dalam segala hal yang negatif.

Kita, tambah Djuniat, jangan alpa, bahwa adat-istiadat yang berakar dalam masyarakat Aceh dan dulunya dijunjung tinggi adalah pengawal syariat. “Ini sesuai dengan ungkapan seorang ulama besar Aceh pada masa lalu, Syeikh Muhammad Ibnu Abbas,” sebutnya.

Mengutip Teungku Kutakarang itu, Djuniat mengatakan dalam kitabnya “Tazkirad Ar Rakidin” menyebutkan antara agama dan adat istiadat seperti zat dengan sifat. “Kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Semuanya sama kembar seperti dua sisi mata uang,” ujar dia.

Menurutnya, pandangan terhadap Ramadhan sebagai bulan penyucian diri tentu saja memberikan kontribusi besar bagi masyarakat dalam melakukan introspeksi diri. “Ini dapat diwujudkan dalam kemampuan untuk mengendalikan diri dari perbuatan yang tak baik, seperti menghindari hedonisme,” katanya.

Hedonisme, lanjut dia, saat ini telah menggerogoti semangat kesederhanaan, kebersamaan, toleransi, kedermawanan serta meminggirkan sifat-sifat akhlakul karimah. “Hedonisme itu sangat menyimpang dari pemahaman masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi semangat Islam sebagai rahmatan lil’alamin,” paparnya.

Bicara hedonisme, Syamsul Rijal, menyebutkan, tak dapat dipungkiri, hal itu sudah menjadi trend kehidupan komunitas. “Ini tak lebih karena kepribadian yang telah menuhankan dunia material sebagai tujuan hidup,” ungkap Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry ini. | waspada

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: