Skip to content

Sistem Ranking Ciptakan Generasi Pintar Tapi Antikritik

24 September, 2009

Pendidikan di Indonesia yang masih melanggengkan sistem ranking di kelas tidak hanya menjadikan para pelajar yang “masuk ranking” tumbuh menjadi manusia yang merasa dirinya pintar, egois, dan tidak bisa menerima kritik, kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.

“Di Indonesia anak-anak pintar diberi ranking. Akibatnya anak-anak pintar di Indonesia menjadi sangat tidak menarik,” katanya pada acara ramah tamah dan dialog dengan puluhan mahasiswa dan warga masyarakat Indonesia di kampus Universitas Queensland (UQ), St.Lucia, kemarin.

Akibat sistem ranking di kelas sekolah-sekolah Indonesia itu, para siswa berkemampuan biasa merasakan dirinya “loser” (pecundang) dan kondisi psikologis tersebut meruntuhkan rasa percaya diri yang sangat penting, katanya.

Produk sistem pendidikan nasional yang menghasilkan anak-anak pintar namun tidak bisa menerima kritik itu telah dirasakan dampaknya oleh sejumlah lembaga pemerintah dan non-pemerintah.

Sebagai contoh, Sofyan Djalil menyebut pengakuan sejumlah diplomat senior Departemen Luar Negeri RI tentang karakter sejumlah diplomat muda yang sekalipun pintar namun “sangat egois” dan “tidak bisa dikritik”.

Di mata Sofyan Djalil, kekeliruan lain dari sistem pendidikan di Indonesia selama ini adalah tidak berkembangnya kreativitas anak didik.

Dalam bagian lain ceramahnya, anggota Kabinet Indonesia Bersatu kelahiran Aceh 23 September 1953 ini juga mengeritisi pemberian dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang disebutnya sebagai “kebijakan yang salah” karena BOS diberikan ke setiap siswa tanpa kecuali.

Menurut menteri yang masih aktif mengajar di Universitas Indonesia dan beberapa perguruan tinggi terkemuka lainnya ini, BOS seharusnya diperlakukan sebagai “selective subsidy” (subsidi terpilih) karena dengan adanya BOS, banyak orang tua murid tidak lagi merasa perlu membayar biaya pendidikan.

Akibatnya kemampuan sekolah untuk membayar gaji para guru pun berkurang. “BOS lebih banyak merusak. Sistem sekolah gratis di daerah-daerah itu salah,” katanya.

Doktor lulusan Sekolah Hukum dan Diplomasi Fletcher Universitas Tufts Amerika Serikat itu juga menggarisbawahi fakta tentang kemampuan berbahasa Inggris banyak lulusan yang diukur dengan standar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sebagai kendala para lulusan untuk mendapatkan tawaran beasiswa studi ke luar negeri.

“TOEFL tidak siap. Bahasa jadi kendala,” kata mantan menteri Kominfo ini saat menjelaskan kendala umum bagi banyak pelamar program beasiswa studi ke luar negeri.

Sofyan Djalil mengatakan, kemampuan berbahasa Inggris itu sepatutnya sudah dibenahi sejak sekolah lanjutan atas.

Sofyan Djalil dan istri, Dr. Ir. Ratna Megawangi, M.Sc, berada di Brisbane untuk mengunjungi anak mereka yang kuliah di UQ.

Di sela kunjungan pribadinya itu, Sofyan Djalil memenuhi undangan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ (UQISA), Perhimpunan Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) dan Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) Queensland untuk bertatap muka dan berdialog dengan kalangan mahasiswa dan warga. | antaranews

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: