Skip to content

Banyak Pelajar Aceh tak Bisa Baca Alquran

17 November, 2009

Sekitar 80 persen pelajar di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), dilaporkan tak bisa membaca Alquran secara baik dan benar. Menurut Wakil Gubernur NAD, Muhammad Nazar, jika data ini benar maka sangat memprihatinkan.

”Jika benar, ini menjadi sebuah keprihatinan kita semua apalagi terjadi di NAD yang menerapkan syariat Islam,” kata Nazar saat membuka Musyawarah Wilayah Badan Komunikasi Pemuda dan Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) VIII, di Banda Aceh, Senin (16/11).

Nazar yang dikutip kantor berita Antara , menyatakan perlu peran lebih besar dari orang tua untuk mengubah kondisi ini. Ia mengatakan, untuk menggerakkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan agama, perlu sebuah aturan hukum yaitu qanun atau perda khusus yang mengaturnya.

Qanun tersebut, kata Nazar, paling tidak dapat membuat regulasi tentang kewajiban pemerintah, orang tua, dan tokoh masyarakat dalam pendidikan agama, syariat, dan mengantisipasi terjadinya pergaulan bebas.

”Saya rasa, itu penting juga untuk mempersiapkan masyarakat agar lebih siap jika Qanun Syariat Islam seperti hukum jinayat dan hukum acara jinayat diterapkan,” kata Nazar. Di sisi lain, ia pun prihatin dengan laporan masih maraknya pergaulan bebas di wilayahnya.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah BKPRMI Provinsi Aceh, Bustami Usman, menyatakan, Aceh memiliki kekhususan bidang penyelenggaraan syariat Islam. Jadi, jika ada pelajar yang tak bisa baca Alquran dengan baik harus segera disikapi.

Menurut Bustami, diperlukan partisipasi semua pihak agar ada gerakan untuk memakmurkan masjid dengan kegiatan belajar dan membaca Alquran. ”Itu penting dilakukan sehingga bisa menjadi media bagi remaja dan pemuda belajar membaca Alquran,” katanya.

Di sisi lain, Bustami menyatakan, penerapan syariat Islam di NAD mestinya tak hanya mengeluarkan kebijakan larangan berpakaian ketat bagi perempuan. Tapi, perlu juga adanya gerakan keagamaan, misalnya, melakukan pengajian di masjid. Sebab selama ini, ungkap Bustami, pengajian di masjid nyaris tak lagi dilakukan di desa-desa di Nanggroe Aceh Darussalam. | republika

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: