Skip to content

Kesejahteraan Guru belum Maksimal

19 November, 2009

Peningkatan mutu pendidikan di Aceh tidak datang begitu saja, tetapi harus melalui proses panjang. Dari sejumlah faktor yang harus dipenuhi, peningkatan kesejahteraan guru harus menjadi faktor pertama perhatian pemerintah Aceh. Demikian antara persoalan yang mengemuka dalam seminar pendidikan yang mengupas tentang analisis kebijakan pemerintah Aceh dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas, di Gedung ACC Dayan Dawood, Rabu (18/11).

Seminar yang digagas Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Unsyiah, menghadirkan narasumber, Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh, Prof Dr H Warul Walidin AK MA, Mohd Ilyas SE MM (Kadis pendidikan Aceh non aktif), pengurus KoBAR-GB, Drs Husniati Bantasyam, dan Syamsul Raden SH dari DPP komite sekolah Aceh.

Mengutip pasal 3 peraturan pemerintah (PP) nomor 39 tahun 1992 tentang peran serta masyarakat, Warul Walidin menyatakan, peran serta masyarakat dapat dilaksanakan dalam bentuk pendirian dan penyelenggaraan pendidikan, pengadaan dan pemberian sumber daya pendidikan, pengadaan dan pemberian bantuan tenaga ahli beserta beberapa hal lain.

Persoalan lain yang disampaikan berupa pendidikan Islami. Anak Aceh harus bisa mengamalkan ajaran Islam secara baik dan tidak hanya sebatas simbol. Selain itu, guru-guru di Aceh yang beragama Islam harus mampu membaca Alquran secara baik. Hal senada diutarakan Mohd Ilyas. Ia mengatakan, banyak tuntutan agar mutu pendidikan ditingkatkan. Namun yang menjadi pertanyaan apa itu mutu pendidikan dan takaran apa yang digunakan untuk mengukur mutu pendidikan.

Menurut Mohd Ilyas, bukan persoalan gampang untuk melakukan peningkatan mutu pendidikan. Dari banyak hal, salah satu yang harus diperhatikan adalah peningkatan kesejahtaraan guru. Kondisi di lapangan saat ini para guru belum sejahtera. Mereka masih bekerja serabutan seusai pulang sekolah untuk menambah pendapatan keluarga.

Ini kondisi yang tidak bisa terbantahkan dan berpengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan. “Guru selama ini belum sejahtera. Dan untuk membantu meringankan para guru sangat tergantung dari kondisi keuangan daerah. Kita harus menghormati guru. Meski dalam serba keterbatasan, mereka tetap mendidik anak-anak Aceh untuk pandai,” ujarnya. | serambinews

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: