Skip to content

Kisah Sedih Sekolah Terendam

22 November, 2009

DINGIN membekap sekujur tubuh dua pelajar MAN Lhokseumawe. Pakaiannya basah kuyup. Tubuh dua remaja itu menggigil, kedinginan. Itulah Muzamil, dan M Ridha. Keduanya ingin menimba ilmu pagi itu, seperti pagi sebelumnya. Namun, niat itu tak kesampaian. Sekolah mereka terendam banjir setinggi 50 centimeter. “Kami tidak bisa belajar hari ini. Guru meliburkan sekolah. Sudah seringkali begini,” kata Muzamil, kepada Serambi, Sabtu (21/11).

Dia menyebutkan, jika hujan enam ruang kelas mereka terendam banjir. “Kalau musim hujan, kami tidak pernah belajar. Guru selalu memerintahkan pulang,” ulangnya lagi. Kondisi itu berlangsung sejak Oktober hingga Desember, setiap tahun. Seluruh siswa di MAN Lhokseumawe juga mengalami nasib yang sama. Mereka datang, sejam kemudian pulang. Air tak kunjung surut. Muzamil menyebutkan, jika banjir, dua hari mereka tak bisa belajar. “Hari pertama banjir, hari kedua, sudah membersihkan ruang belajar,” terang Muzamil.

Kepala MAN Lhokseumawe, Ruslan, menyebutkan kondisi itu sudah terjadi lima tahun lalu. Gedung sekolah tersebut dibangun tshun 1970. “Kami hanya bisa membersihkan ruangan dan selokan saja. Tidak bisa berbuat banyak. Lantai ruang kelas sudah terlalu rendah,” kata Ruslan. Dia mengatakan, sudah sejak dua tahun lalu mengusulkan pembangunan ruang baru ke Pemerintah Kota Lhokseumawe. Namun, hingga saat ini, sebanyak enam ruang kelas dan pekarangan sekolah masih saja terendam banjir. “Kami sudah mengsulkan. Tapi, belum bisa dibantu mungkin. Karena, bantuan pendidikan jumlahnya kecil,” terang Ruslan.

Kondisi serupa juga terlihat di SD 6,7 dan SD 8 Lhokseumawe. Tampak sejumlah bocah kecil hanya bermain air. Di Aceh Utara, SD Negeri Alue Tho, Kecamatan Matangkuli, SD Asan Krueng Kreh, dan SD Rengkam, Kecamatan Pirak Timu, dan sejumah sekolah lainnya juga mengalami nasib yang sama. Sekolah ini saban tahun terendam banjir. SD Alue Tho misalnya, letaknya persis di anak sungai Krueng Keureto. Akibatnya, jika hujan deras, banjir tak bisa dielakkan. Hingga saat ini, sekolah itu masih melakukan aktifitas belajar-mengajar.

Potret buruk
Kondisi tersebut memang menjadi potret buruk pendidikan di daerah pedalaman. Sejumlah masyarakat, meminta agar Pemerintah Aceh Utara segera memindahkan sekolah-sekolah yang berada di daerah endapan banjir itu. Jika tidak, jangan berharap proses belajar-mengajar bisa berjalan efektif. Taruhannya, mutu pendidikan semakin anjlok.

Di atas kertas, sebanyak 83 persen siswa Aceh Utara lulus ujian nasional (UN). Namun, ribuan pelajar saban tahun tak bisa melanjutkan ke pendidikan tinggi. Pasalnya, mereka tak lulus seleksi nasional masuk perguruan tinggi (SNMPT). Ini pula yang patut didongkrak Dinas Pendidikan Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Patut diakui bahwa persoalan banjir yang terjadi hampir setiap tahun itu, adalah satu dari sekian banyak persoalan pendidikan di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Persoalan lainnya adalah kapasitas guru yang tidak memadai. Banyak guru berijazah SMA. Guru ini berada di pedalaman, dan di daerah rawan banjir. Maka, lengkap sudah penderitaan sekolah daerah endapan banjir. Inilah kisah sedih sekolah rawan banjir. | serambinews

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: