Skip to content

Pakar: UN Tetap Dilaksanakan Untuk Standar Pendidikan

11 December, 2009
m anas adam

Foto : Google

Pakar pendidikan Drs Anas M Adam M.Pd menyarankan ujian nasional untuk tingkat SMA dan SMP tetap dilaksanakan, tapi bukan untuk menentukan kelulusan, melainkan sebagai standar mutu pendidikan di Tanah Air.

“Jadi, UN tetap dilaksanakan untuk melihat mutu pendidikan di daerah-daerah, sedangkan masalah kelulusan serahkan saja kepada sekolah masing-masing,” katanya di Banda Aceh, Jumat, ketika dimintai tangapannya tentang penolakan UN.

Anas yang juga wakil Ketua Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Aceh itu mengemukakan, serahkan saja kelulusan para siswa ke sekolah masing-masing, tapi tidak meninggalkan UN, seperti yang dilaksanakan di tingkat sekolah dasar.

“Tingkat SD sekarang ini tetap melaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional UASBN), tapi kelulusan ditentukan masing-masing sekolah. Saya rasa, SMA dan SMP bisa mengikuti seperti SD, sehingga ada hak otonom sekolah,” ujar mantan Kepala Dinas Pendidikan Aceh itu.

Ia menyatakan, UN tetap dilaksanakan, karena bila dihilangkan pihak sekolah atau para guru tidak terpacu untuk meningkatkan mutu pendidikan anak-anak.

Dengan demikian, UN tidak lagi menjadi momok bagi guru atau siswa, tapi akan menjadi pemicu bagi mereka untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah masing-masing.

“Selama ini, UN menjadi benda yang menakutkan, karena apabila tidak lulus nama siswa, guru dan sekolah akan jelek, sehingga pada pelaksanaanya sering terjadi rekayasa,” katanya.

Ia mengakui bahwa UN belum bisa dijadikan sebagai standar kelulusan, karena pemerintah belum bisa menyamaratakan sarana dan fasilitas pembelajaran antara sekolah di kota dengan di perkampungan.

“Jangankan di ibukota provinsi, sekolah di ibukota kabupaten dengan kecamatan kadang mutunya jauh berbeda, sementara soal-soal UN sama di seluruh Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ketua Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB) Aceh Sayuthi Aulia Yusuf mengemukakan, UN yang dilaksanakan selama ini dinilai tidak adil dan mengkebiri hak-hak guru.

“Bayangkan, guru yang mengajar bertahun-tahun hanya ditentukan oleh UN yang hanya dua tiga hari, padahal kelulusan anak tidak semata hanya berdasarkan mata pelajaran, tapi banyak faktor lain yang harus dipertimbangkan,” katanya.

Selain itu, UN yang dilakukan selama ini banyak kecurangan, karena semua sekolah berlomba-lomba memberikan jawaban ujian oleh guru kepada siswa, karena takut anak didiknya banyak tidak lulus.

Oleh karenanya, UN tidak layak untuk dipertahankan, serahkan saja masalah kelulusan oleh sekolah masing-masing, karena mereka yang mengetahui kemampuan dan akhlak anak-anak didiknya, ujarnya.

Dikatakan, UN boleh dilaksanakan hanya sebagai alat pemetaan mutu pendidikan di tanah air, bukan sebagai standar kelulusan.

Apabila hasil UN rendah, maka mutu pendidikan di sekolah tersebut diperbaiki dengan menambah anggaran dan tenaga guru yang memadai, sementara bila UN tinggi, maka mutunya tetap dipertahankan, bila perlu ditingkatkan dengan dana yang memadai.

Jadi, kalau UN untuk standar mutu, maka tidak ada ketakutan bagi guru, karena kelulusan ditentukan oleh sekolah, katanya.

Sayuti menyatakan, UN baru bisa diterapkan sebagai standar kelulusan di Indonesia apabila fasilitas pendukung belajar mengajar dan tenaga guru sudah merata antara kota dan desa.

“Sekarang ini pemerataan pendidikan antara kota dan desa di Indonesia belum merata, sehingga mutu pendidikannya juga berbeda, sehingga tidak bisa UN itu diterapkan sebagai standar kelulusan secara nasional,” katanya.

Sayuti mengatakan, pihaknya tidak alergi dengan UN, tapi kalau untuk standar kelulusan, itu yang tidak bisa diterima. | beritasore

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: