Skip to content

Tsunami: Lima Tahun Sudah Terlewati

25 December, 2009
tsunami aceh

Ilustrasi : Google

Oleh Andri Mubarak

Hari itu 26 Desember, tanggal yang amat sangat terlampau bersejarah bagi bangsa ini, bukan tanggal proklamasi negara ini, bukan juga hari pelantikan presiden, para menteri apalagi anggota dewan yang terhormat, bukan juga hari wafatnya para pahlawan atau srikandi pemberani yang membela bangsa ini, tapi hari itu adalah hari dimana dunia tercengang melihat bencana yang maha dahsyat yang pernah terjadi di planet ini.

Semua terheran-heran, membisu, dan hanya bisa berkata, kekuatan apa yang mampu menghadirkan bencana sebegitu hebatnya?

Tsunami 26 Desember 2004, tepat 5 tahun silam adalah bencana yang memakan begitu banyak korban. Bayangkan, gempa yang berkekuatan 9, 3 SR ini tidak hanya meluluhlantakkan Aceh dan Nias saja, tapi juga melanda negara-negara lain seperti Bangladesh, India, Malaysia, Maldives, Myanmar, Singapura, Srilanka dan Thailand.

Memakan begitu banyak korban, menurut U.S. Geological Survey korban tewas mencapai 283.100, 14.000 orang hilang dan 1,126,900 kehilangan tempat tinggal. Menurut PBB, korban 229.826 orang hilang dan 186.983 tewas.

Tsunami Samudra Hindia menjadi gempa dan Tsunami terburuk 10 tahun terakhir dan bencana ini adalah bencana kematian terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Sungguh bencana yang di luar batas logika manusia.

Gempa yang berpusat kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10 kilometer yang terjadi di pagi minggu yang hening ini tidak hanya memakan korban jiwa, tapi juga kehancuran, tidak hanya dari segi fisik, tapi juga dari segi psikologis, 50 % bangunan mengalami kehancuran, anak yang kehilangan orang tuanya, orang tua yang kehilangan anaknya, suami yang kehilangan istrinya begitu juga sebaliknya menimbulkan tekanan psikologis yang amat sangat kuat. Dunia seakan berakhir bagi mereka yang merasakan efek gempa dan tsunami. Sungguh Maha Besar Allah dengan segala nikmat-Nya.

Dunia seakan dibangunkan oleh gempa dan tsunami lima tahun silam tersebut, solidaritas dari berbagai penjuru dunia untuk merangkul Aceh dan Nias muncul dengan seketika. Dalam hitungan hari, begitu besar bantuan yang di dapat untuk segera membangun Aceh kembali.

Bantuan terus mengalir bagaikan mata air yang menjadi sumber kehidupan manusia. Tercatat begitu banyak negara di seluruh dunia yang turut aktif dalam penggalangan dana bahkan terjun langsung ke lapangan. Tidak hanya itu, perdamaian di Aceh pun terwujud pascatsunami, momentum yang telah ditunggu-tunggu sejak beberapa dekade silam.

Tidak ada lagi pertumpahan darah di Aceh, yang ada hanyalah senyuman perdamaian yang menghiasi bumi Iskandar Muda. Inilah potret hikmah dibalik bencana yang maha dahyat, tidak ada menyangka, pelan tapi pasti, Aceh mulai bangkit mengejar ketertinggalan.

mesjid ulee lheue

Mesjid yang masih berdiri tegak. Sumber foto Google

Kini, lima tahun sudah peristiwa itu meninggalkan kita semua. Masih terlintas di pikiran kita bagaimana masyarakat dunia bahu membahu membantu Aceh untuk kembali berdiri tegak menyongsong hari esok yang lebih baik. Bangunan–bangunan kini berdiri megah seolah-olah tidak pernah ada tsunami 5 tahun silam meluluhlantakkan Nanggroe tercinta ini.

Denyut nadi perekonomian kembali normal. Masyarakat kembali melaksanakan aktivitasnya seperti biasa. Pemerintahan berjalan dengan baik. Perdamaian terus memayungi kehidupan masyarakatnya. Pelajar dan mahasiswa kembali bisa menikmati indahnya dunia pendidikan. Syariat islam menjadi motor pergerakan kehidupan masyarakat Aceh secara keseluruhan. Aceh kini jauh berbeda dari Aceh yang dulu dikenal.

Hari ini, kita melihat begitu banyak hikmah yang diberikan oleh Allah dibalik sebuah bencana. Mari kita jadikan momentum 5 tahun tsunami menjadikan kita manusia-manusia yang semakin menghargai kehidupan.

Waktu yang telah diberikan, nyawa yang masih terkandung badan, udara yang masih bisa kita hirup adalah nikmat yang begitu besar yang masih diberikan Allah SWT. Manfaatkanlah hidup ini untuk menyebarkan senyuman dan kepedulian antar sesama. Amiin.

Hari itu minggu, 26 Desember 2004. Gelombang itu memecah keheningan, dahsyat, tanpa bekas.

* Kadiv Kersos SAMAN UI, Mahasiswa Teknik Industri 2009

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: