Skip to content

Pendidikan di Indonesia Hanya Lahirkan “Mafia”

29 March, 2010
ujian nasional

Ilustrasi : antaranews

Pendidikan di Indonesia hanya melahirkan ahli “mafia” atau matematika, fisika, dan kimia, sehingga lulusan pendidikan di Indonesia tidak memiliki karakter.

“Faktanya, pengangguran terdidik di Indonesia saat ini mencapai 1,2 juta, sedangkan pengangguran tak terdidik hanya 700 orang,” kata konsultan kewirausahaan, Imam Supriyono di Surabaya, Senin.

Ia mengemukakan hal itu dalam seminar pendidikan bertajuk “Pendidikan dan Dunia Kerja” yang digelar HMI Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan menampilkan empat pembicara.

Menurut pemimpin “SNF Consulting” itu, fakta yang ada membuktikan pendidikan di Indonesia tidak melahirkan karakter, tapi melahirkan “mafia” yang sangat formalistik.

“Padahal, bangsa Indonesia dengan jumlah penduduk yang mencapai 225 juta dengan penduduk miskin cukup besar itu, membutuhkan pendidikan karakter,” ucapnya.

Penulis sejumlah buku pendidikan dan kewirausahaan itu mengatakan, karakter yang diharapkan lahir dari dunia pendidikan adalah karakter yang jujur, tidak minta-minta, dan mampu menemukan jati diri.

“Kalau pendidikan hanya mengukur seseorang dari aspek nilai matematika, fisika, dan kimia maka pendidikan di Indonesia tidak akan melahirkan karakter,” ujarnya menegaskan.

Apalagi, katanya, kemandirian atau kewirausahaan itu dapat dilahirkan dari pendidikan karakter. “Kalau tidak jujur maka akan sulit menjadi wirausaha,” paparnya, memberikan contoh. | antarnews

5 Comments leave one →
  1. 30 March, 2010 08:40

    Krn sekolah itu mengajarkan otak kiri, bukan otak kanan. Semuanya harus berpikiran logis, teratur, seragam,berpikiran analistis dan memang didesign untuk menelorkan pegawai, krn semakin tinggi pendidikan orang (s2, s3) jarang sekali yg berani membuka Bisnis krn otaknya ke kiri sekali yg semuanya hrs serba perfect, di Sekolah tdk mengajarkan keberanian sedangkan orang2 yg berwirausaha adalah orang2 yg berani mempunyai dream, pengambil resiko, bermental tangan di atas (menggaji karyawan). selama sistem pendidikan kita begini, yach welcome deh tiap tahunnya penganguran makin berjubel.

    • 30 March, 2010 20:04

      Wah, ada benarnya. Terlebih di daerah, profesi basah tanpa lahan telah menjadi pilihan nomor satu untuk mendapatkan pegawai2 teladan, dan tidak dinafikan para penganggur semua hilang mimpi. Tidak berani ambil resiko🙂

    • zul haemy saliem permalink
      31 March, 2010 09:35

      Anda benar, dan itu sudah terjadi semenjak tingkat prasekolah yg mana anak anak cuma dituntut utk bisa baca tulis tanpa membangun karakter yg sangat dibutuhkan saat dia dewasa.
      Menurut saya dibutuhkan guru yg paham betul arti pendidikan bukan hanya transfer ilmu, seperti anda katakan pengembangan otak kiri dan kanan harus berimbang, dan tak kalah penting kepedulian guru terhadap permasalahan anak didik sehingga anak itu ada perasaan diperhatikan. Anak harus dibiasakan utk meyelesaikan masalah bukan hanya hasil akhir( yg dibutuhkan proses penyelesaian).

  2. 10 April, 2010 12:08

    Salut untuk semua posting2 yang menarik. visit back 05:08

  3. 29 April, 2010 11:29

    menurut saya ya salahnya sendiri kok bisa jadi pengangguran….
    padahal kalo dia mau menggerakkan tangan dan kakinya dia jelas bukan “pengangguran”
    banyak usaha yang bisa dilakukan baik itu dengan modal besar maupun kecil….

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: