Skip to content

Membawa Kesenian Aceh ke Paris

14 June, 2010

Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris (KBRI Paris) bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nanggaro Aceh Darussalam telah menyelenggarakan Pagelaran Malam Budaya Indonesia bertempat di Ruang 1, Gedung UNESCO, 125 Avenue de Suffren, Paris pada tanggal 10 Juni 2010. Pagelaran Malam Budaya dibuka oleh KUAI KBRI Paris, Bapak Maruli Tua Sagala dan dihadiri oleh sekitar 1250 pengunjung yang terdiri dari pejabat pemerintah, anggota Parlemen dan Senat, kalangan diplomatik, wartawan, masyarakat Perancis, dan warga masyarakat Indonesia yang tinggal di Paris.

Dalam sambutannya, KUAI KBRI Paris menekankan pentingnya Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia yang mempersatukan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda dan dilandasi oleh kerja sama dan toleransi beragama demi kepentingan bersama. Disampaikan pula bahwa penyelenggaraan Malam Budaya ini merupakan apresiasi Indonesia kepada masyakarat Internasional, khususnya masyarakat Perancis atas perhatian dan simpati yang besar yang diberikan kepada Indonesia untuk pemulihan Aceh dan Nias dari bencana alam tsunami pada Desember 2004 lalu.

Sementara itu, Ibu Darwati Abdulgani, istri Gubernur Aceh dan sekaligus sebagai pembina Sanggar Tari Cut Nyak Dhien menyampaikan bahwa tsunami 2004 telah memakan banyak korban jiwa termasuk para seniman dan budayawan Aceh. Namun demikian, sejalan dengan pembangunan kembali Aceh, kebudayaan dan kesenian Aceh juga ikut berkembang. Pagelaran Malam Budaya dengan menampilkan tarian dan musik Aceh tersebut merupakan bukti bangkitnya budaya dan kesenian Aceh.

Pagelaran Malam Budaya mengambil tema Senyum Aceh (Sourire D’Aceh). Sengaja tema tersebut dipilih untuk menunjukkan Aceh pasca tsunami kepada masyarakat internasional, khususnya masyarakat Perancis, yakni Aceh yang siap membangun dan tersenyum menatap masa depan yang lebih baik dengan penuh percaya diri demi kemakmuran penduduknya.

Tim Kesenian Aceh Darussalam pada Pagelaran Malam Budaya tersebut telah menampilkan beberapa tarian, antara lain, Peumulia Jamee, Phok Teupeun, Guel, Saman, Kipah Sikarang, Rapai Geleng, Prang Sabilillah, Rampoe Aceh dan musik Aceh. Salah satu di antara tari-tarian tersebut, Tari Saman saat ini telah didominasikan untuk masuk sebagai Intangible Cultural Heritage ke UNESCO, yang pemilihannya akan ditentukan pada bulan Juli 2010 mendatang.

Para pengunjung Malam Budaya berdecak kagum melihat tari-tarian Aceh tersebut, khususnya tari Saman dan Rapai Geleng. Dengan iringan musik secara live, para penari dengan gerakan sangat cepat, ritmis-harmonis dan sempurna menarikan tari-tarian tersebut di tengah-tengah gemuruh tepuk tangan para penonton. Tidak jarang mereka berdiri dan berteriak ‘bravo, bravo’.

Suasana semakin bertambah semarak dan meriah ketika bunyi seruling dan gendang semakin membahana di ruangan yang memang memiliki arsitektur akustik secara baik. Sebelumnya, pada tarian Pemulia Jamee para pengunjung juga terlihat antusias menyambut para penari yang turun dari panggung membagi-bagikan suvenir khas Aceh, bahkan banyak yang menghampiri para penari untuk meminta suvenir tersebut meskipun para penari belum sampai pada barisan mereka.

Menurut ketua Yayasan Argadia Aceh, Ely Rosalina yang dikonfirmsi pewarta HOKI via telepon gengamnya di Paris mengatakan, ia sangat senang atas keberhasilan itu. Para pengunjung Malam Budaya berdecak kagum melihat tari-tarian Aceh tersebut, khususnya tari Saman dan Rapai Geleng. Dengan iringan musik secara live, para penari dengan gerakan sangat cepat, ritmis-harmonis dan sempurna menarikan tari Nggar Cut Nyak Dhin pada malam itu. ia sangat terharu atas sambutan kesenian Aceh di negara Eropa, apalagi penggelaran acaranya di Gedung termegah di dunia.

Ini semua bagaikan mimpi, sudah sampai di gedung termegah tersebut. Para penonton juga dari awal hingga akhir pertunjukan tidak ada yang beranjak dari tempat duduknya, bahkan banyak di antara mereka yang merasa seolah-olah pertunjukan belum selesai, meski pun acara telah ditutup. Kekaguman para penonton atas tari-tarian dan musik Aceh serta kostum para penari terlihat ketika mereka secara bergantian meminta foto bersama dengan para penari, dan melakukan dialog secara langsung dengan para penari yang dipandu oleh para penerjemah dari KBRI Paris. Interaksi seperti ini sangat positif untuk meningkatkan pemahaman dan apresiasi para penonton terhadap budaya dan kesenian Indonesia, khususnya Aceh.

Acara Pagelaran Malam Budaya tersebut juga dimanfaatkan oleh KBRI Paris untuk mempromosikan tujuan-tujuan wisata Indonesia dengan membagi-bagikan brosur tujuan pariwisata Indonesia dalam bahasa Perancis yang diterbitkan oleh KBRI Paris disertai suvenir berupa tas batik. Melalui upaya tersebut, diharapkan masyarakat Perancis lebih mengenal dan melakukan kunjungan wisata ke Aceh, Indonesia.

Menurut kepala dinas pendidikan provinsi, Aceh Bakhtia Ishak yang dikomfirmasi HOKI mengatakan, “Kita menyambut baik atas kesuksesan anak-anak sanggar Cut Nyak Dhin di Eropa yang sekarang sedang melanjutkannya di berbagai kota setelah acara pembukaan di gedung Unesco (10/06). Kita berharap kepada anak-anak kita di sana sehat-sehat semua tidak ada kendala apapun. Harapan kita kepada mereka yang memperjuangkan dan memperkenalkan seni budaya Aceh di Eropa ini sebagai tanda terima kasih kita kepada anak-anak yang masih duduk di bangku SMA dan universitas di Banda Aceh. Dengan ada anak kita yang memperkenalkan seni budaya ke negara-negara tersebut, kita akan menambahkan parawisata untuk melihat langsung bagaimana sebenarnya daerah Aceh. | kabarindonesia

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: