Skip to content

Aceh Harus Nyatakan “Perang” HIV/AIDS

2 December, 2010

Pengamat kesehatan Universitas Abulyatama (Unaya) Aceh Besar, Teuku Anjar Asmara menyatakan masyarakat dan Pemerintah Aceh harus bersatu menyatakan “perang” terhadap penyakit HIV/AIDS yang terus meningkat di provinsi itu.

“Salah satu cara untuk menekan kasus ini, paling tidak adalah tidak menambah lagi melalui komitmen bersama masyarakat dan pemerintah menyatakan ‘perang’ terhadap HIV/AIDS,” katanya kepada ANTARA di Banda Aceh, Kamis [02/12].

Artinya, dekan Fakultas Kedokteran Unaya Aceh Besar itu menyatakan seluruh elemen masyarakat yang didukung pemerintah tidak memberi ruang dan celah adanya praktek-praktek bagi Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Di Aceh memang tidak ada lokalisasi PSK, namun yang paling penting pemerintah dan masyarakat tidak memberi peluang atau celah berkembangnya praktek asusila tersebut, meski terkadang berkedok tempat hiburan atau rumah kecantikan (salon),” katanya.

Data dari lembaga resmi menyebutkan jumlah pengidap HIV/AIDS di Provinsi Aceh hingga awal Desember 2010 mencapai 61 kasus. Kendati demikian, Anjar Asmara yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Aceh menilai para pengidap HIV/AIDS di Aceh itu sebagian besar tertular saat berada di luar provinsi ujung paling barat Indonesia tersebut.

“Sebagian besar kasusnya tertular saat pengidap bekerja di luar Aceh. Kalau di Aceh, saya menilai sulit karena ada sistem yang hingga kini masih menjadi benteng penularan HIV/AIDS yakni berlakunya Syariat Islam di daerah ini,” katanya menambahkan.

Oleh karena itu, Anjar Asmara, menyarakan hukum Syariat Islam harus benar-benar ditegakkan oleh pemerintah dan elemen masyarakat lainnya. Meski demikian, katanya penyakit yang berdampak menurunnya kekebalan tubuh itu bisa tertular melalui jarum suntik, dan pengguna narkoba selain transeksual melalui PSK.

Pemerintah juga harus lebih gencar menyosialisasikan tentang penggunaan jaruk suntik oleh para mentri di desa-desa. Artinya, jangan sampai satu jarum suntik untuk banyak orang.

“Sosialisasi kepada para mantri (perawat) itu penting sebagai upaya mencegah penggunaan jarum suntik yang ternyata sebelumnya digunakan kepada pengidap, kemudian digunakan lagi kepada orang lain, dan akhirnya terjadi penyebaran virus,” kata Anjar Asmara. | beritasore

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: