Skip to content

Histeria Ketakutan Picu Isu Penculikan

16 December, 2010
penculikan

Sumber: Istimewa

Merebaknya isu penculikan di wilayah Aceh dan Sumut lebih disebabkan oleh histeria massa yang dihantui ketakutan yang berlebihan. Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Adrianus Meliala tidak yakin bahwa memang terjadi aksi-aksi penculikan. Dia menduga, aksi penculikan hanya pernah terjadi sekali saja. Namun lantaran ada histeria massa, yang didukung oleh teknologi kecepatan layanan pesan singkat (short messages service/SMS), isu penculikan menjadi merebak tak terbendung.

“Ini harus dipahami dalam konteks histeria massa, ditambah pengaruh SMS yang luar biasa kecepatannya beredar,” ujar Adrianus Meliala kepada JPNN di Jakarta, kemarin (15/12), saat dimintai tanggapan atas merebaknya isu penculikan yang belakangan sudah memakan sejumlah korban lantaran ditudih sebagai penculik. Isu tak hanya terjadi di wilayah Sumut, namun juga di Aceh, yang juga sudah memakan korban lantaran dicurigai sebagai pelaku penculikan.

Adrianus menjelaskan, pesan yang dikirim lewat SMS, yang cukup dengan kalimat singkat namun membawa pesan yang logis, sangat gampang mempengaruhi massa yang ketakutan. “Massa yang ketakutan, yang histeris, sudah tak mau lagi berpikir apakah isi SMS itu benar atau salah,” terangnya.

Dia mengatakan, bisa saja merebaknya isu penculikan yang tersebar lewat SMS itu ditandingi dengan penyebaran SMS yang menyebutkan bahwa itu isu semata. Hanya saja, SMS tandingan tidak akan mampu mengalahkan isi SMS yang lebih berisi muatan menakutkan dibanding yang menenangkan.

Namun, pria yang sudah lama menjadi penasehat bagi jajaran kepolisian itu tidak berani memastikan bahwa penculikan ini sekadar isu. “Mungkin sekali kasus penculikan terjadi. Tapi karena dibicarakan terus-menerus, terkesan kasusnya banyak dan riil. Dulu, ketika belum banyak handphone, saya yakin dampaknya tak sebesar ini. Dulu hanya dari mulut ke mulut,” terangnya.

Disebutkan, sekitar 10 tahun lalu sempat merebak isu sumur beracun, yang racunnya ditebarkan oleh orang-orang misterius. Hanya hanya, lantaran hanya dibicarakan dari mulut ke mulut, isu ini lambat menyebar.

Adri, begitu biasa disapa, mengatakan isu penculikan begitu cepat menyebar lantaran tidak ada satu pun warga yang ingin jadi korban. Begitu menerima SMS atau informasi mengenai aksi penculikan, mereka akan meneruskan ke saudaranya, temannya, dan seterusnya secara berantai. “Karena merasa punya anak kecil, merasa punya saudara yang punya akan kecil, begitu terus menjadi berantai,” ucapnya.

Adakah yang menunggangi lantaran isu terjadi di Aceh dan Sumut yang tergolong daerah “rawan”? Adri merasa tak yakin dengan analisis seperti itu. Dugaan itu, lanjutnya, merupakan bagian dari imbas sebuah isu liar yang tidak segera ditangani. Lantas, apa yang harus dilakukan polisi?

Pria yang pernah menjadi wartawan itu mengatakan, aparat kepolisian harus berani menangkap siapa pun yang pernah menyampaikan isi SMS atau menyebarkan informasi lewat media lain, mengenai isu tersebut. Langkah ini untuk menghentikan berantainya informasi yang menebarkan ketakutan itu. “Saya mengimbau kepolisian setempat untuk segera merespon, mencari pengirim SMS,” ujarnya.

Dia mengimbau polisi bekerjasama dengan provider. Hanya saja, dia mengakui, ada kelemahan pelacakan model kerjasama dengan provider. Pasalnya, provider hanya bisa menyebutkan bahwa pada jam sekian ada kiriman SMS dari nomor ponsel ini ke nomor ponsel itu. “Tapi apa isinya, belum bisa diketahui,” ujarnya. Dia menyarankan agar kepolisian punya alat sendiri. “Hanya saja alatnya sangat mahal,” pungkasnya.

Seperti diberitakan, isu penculikan anak terus memakan korban. Minggu (12/12) kemarin, giliran Sugiono (30), sekarat dipukuli orang sekampung di Dusun Kampung Tanjung, Desa Limau Mungkur, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hilir, Deliserdang. Sugiono yang dicurigai warga sebagai penculik anak tidak hanya sekarat, daun telinga kanannya putus ditebas warga.

Di Aceh, dua orang perempuan yang sedang mencari anaknya yang hilang akibat Tsunami beberapa waktu lalu, juga diamuk massa. Keduanya juga dituduh sebagai pelaku penculikan yang sedang mengincar mangsa.

Terakhir, Selasa (14/12), di Kecamatan Pancurbatu, Medan, keluarga pendeta dari Gereja Gerakan Pentakosta (GGP) nyaris meninggal sia-sia dibakar warga yang tak percaya mereka pelayan di gereja. Saat kejadian, keluarga Pdt L Karo Sekali (65) bersama istrinya dan Pdt Petrus, ketiganya Warga Jalan Selamat, Medan, pulang merayakan natal dari Seberayadi Tanah Karo. Mereka menumpang mobil Daihatsu Taff Ranger BK 1921 ED yang dikemudikan Bapa Raja. Warga hampir menghajar mereka lantaran dicurigai sebagai penculik. | jpnn

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: