Skip to content

Melabuhkan Harapan di Rumah Singgah

3 March, 2011
ktp

Ilustrasi: Google Images

Ditemui di salah satu kamar di lantai empat Rumah Singgah Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta Pusat, Ruhama (22) tengah beristirahat sejenak sambil memeluk guling boneka milik anaknya, Nanda Khalis (1).

Guling boneka itu menjaga kedekatannya dengan Nanda yang kini tergolek di ruang unit perawatan khusus RSCM karena menderita kelainan jantung.

”Sudah sebulan lebih di sini. Sekarang masih menunggu hari yang tepat untuk operasi. Kasihan Nanda, kalau lagi sakit, sampai biru semua badannya,” kata Ruhama, perempuan asal Sigli, Aceh, Rabu (2/3/2011).

Ruhama bersama suaminya, Bustami (30), datang ke RSCM untuk mendampingi Nanda yang dirujuk oleh Rumah Sakit Zainal Abidin, Banda Aceh.

Keluarga Ruhama tergolong miskin sehingga mereka bisa berobat gratis dengan fasilitas Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Dengan JKA, selain gratis, biaya perawatan medis serta sebagian biaya perjalanan pasien dan seorang pendamping pun dijamin pemerintah daerah setempat.

”Lumayanlah, saya tidak pusing mikirin tiket pesawat saya dan Nanda karena ditanggung selama proses pengobatan di RSCM,” kata Ruhama.

Demi biaya hidup anak-istrinya, Bustami, yang berprofesi sebagai petani serabutan, sering menjadi sopir pengganti angkutan umum di Pidie, kota tempat tinggal mereka.

Meskipun mendapat fasilitas JKA, Ruhama dan suaminya tetap saja pontang-panting menambal kebutuhan selama mendampingi Nanda di Jakarta.

Di Rumah Singgah RSCM, Ruhama menyewa dua tempat tidur dengan biaya per harinya Rp 30.000.

Setiap kamar berisi empat tempat tidur dan tersedia kamar mandi. Namun, mereka tidak bisa mencuci baju atau memasak. Jadi, Ruhama harus mengatur keuangan untuk mencucikan baju serta membeli makanan.

”Setiap hari, satu-dua kali sajalah makan nasinya,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Ni Made Geria (35), yang bersama suaminya, I Ketut Sunarya, mendiami kamar berdekatan dengan keluarga Ruhama, setidaknya selama tiga bulan ini.

Anak kedua Geria, I Made Dwitia Indikana (5), menderita kanker getah bening dan sejak enam bulan lalu harus bolak-balik berobat di RSCM.

”Anak saya jadi emosional karena sakit. Kami terpaksa menyewa satu kamar penuh, dengan empat tempat tidur, biar anak tidak terganggu,” ungkap Geria.

Menyewa satu kamar berarti harus mengeluarkan Rp 60.000 per hari. Cukup berat bagi Sunarya sebagai tukang kebun sebuah penginapan di Ubud, Bali.

”Demi anak, pinjam uang ke mana-mana juga tidak masalah. Semoga anak saya bisa sehat sajalah,” kata Geria.

Rumah singgah menjadi pilihan Geria ataupun Ruhama karena bersih dan relatif murah. Ada juga kos-kosan murah, sekitar Rp 100.000 per bulan, yang banyak disediakan warga di sekitar RSCM, tetapi kebersihannya tidak terjamin.

”Di sini, ada 84 tempat tidur di 21 kamar. Memang yang antre banyak dan tidak bisa kita tampung semuanya,” kata Manajer Operasional Rumah Singgah RSCM Lili Halimah Sumaamidjaja. | kompas

One Comment leave one →
  1. nana mutiah permalink
    9 April, 2011 09:12

    anak saya kelas 2 smp mendapat tugas untuk mewawancarai penghuni rumah singgah di jakarta, dan ia mendapat rujukan di rumah singgah cipto mangunkusumo

    yang ingin saya tanyakan, dimana dan dengan siapa saya harus meminta izin

    terima kasih

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: