Skip to content

Menguji Kejujuran Ujian Nasional

24 April, 2011
Ilustrasi

Ilustrasi/Sumber: soloposfm.com

Oleh : Paulus Mujiran, S.sos, Msi

Mulai pekan ini 18 April 2011 Ujian Nasional (UN) untuk jenjang SLTA dimulai. UN kali ini digelar dengan format baru yakni dipergunakannya nilai raport semester 3-5 dan nilai ujian sekolah sebagai dasar penentuan kelulusan. Dengan pertimbangan bahwa syarat kelulusan “dipermudah” maka kesempatan UN ulang dihapuskan. Bertahun-tahun UN dipersoalkan dan menjadi polemik berkepanjangan karena dijadikan penentu kelulusan di sejumlah daerah.

Banyak yang janggal dari penyelenggaraannya. Ada siswa pandai yang justru tidak lulus UN namun banyak kejadian anak-anak yang kurang pintar justru lulus.

Karena menjadi penentu kelulusan banyak peserta UN termasuk sekolah menempatkannya sebagai “dewa” penyelamat yang menakutkan. Bagi peserta didik lulus UN artinya dapat meraih mimpi mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Tidak lulus sama dengan malapetaka dan amat memalukan. Sementara bagi guru dan sekolah, kepala dinas, angka kelulusan UN menjadi jaminan promosi gratis di tahun berikutnya.

Begitu pentingnya UN menyebabkan perlakukan terhadap UN sangat istimewa. Sebagai peristiwa yang sangat menentukan persiapan pun digelar lebih panjang seperti mengusung bimbingan test ke sekolah untuk melatih anak-anak dalam kompetensi mengerjakan soal-soal mirip soal UN. Masuknya lembaga bimbel ke sekolah ini mengundang kritik karena menggantikan peran guru. Peserta didik hanya disiapkan untuk lulus dan lolos UN namun diabaikan di mata pelajaran yang tidak di UN kan.

Menempatkan UN sebagai proses evaluasi akhir ternyata mengundang bermacam kerawaban bahkan kecurangan. Banyaknya kasus kebocoran dan kecurangan mencerminkan UN begitu ditempatkan di menara gading yang menakutkan peserta didik. Kecurangan dalam UN bisa terjadi dalam percetakan naskah soal UN dan distribusi naskah. Meski sangat mahal dan hukuman yang berat namun tetap saja ada pihak yang terus mengejar dan mencari kebocoran.

Di tingkat peserta didik kecurangan bisa terjadi karena kerjasama antara guru dan peserta didik. Seperti menempel kunci lembar jawaban di kamar mandi/toilet, mengirim kunci jawaban lewat SMS handphone dan menulis kunci jawaban mempergunakan kertas tisue. Bagi peserta didik saling menukar lembar jawaban juga bisa terjadi karena memang sering diinstruksikan agar peserta didik yang pandai membantu mereka yang kurang pandai.

Namun untuk tahun ini modus terakhir sangat sulit dilakukan karena pemerintah memutuskan memvariasi soal menjadi 5 jenis untuk menekan saling mencontek diantara peserta UN. Kecurangan lain yang terjadi juga membetulkan lembar jawaban UN pasca ujian berlangsung. Pada tahun 2011 UN memang tidak dijadikan satu-satunya penentu kelulusan bagi peserta didik. Dengan demikian syarat pun dipermudah karena ada pertimbangan alternatif dalam meluluskan peserta didik.

Peluang kecurangan tetap ada karena sebagai peristiwa penting peserta didik di akhir tahun ajaran segala cara akan ditempuh demi mencapai tujuan termasuk menghalalkan terjadinya kecurangan. Yang masih menjadi polemik di kalangan pendidik dengan format baru perbandingan nilai ujian sekolah dan raport 40 : 60 untuk UN harapan untuk lebih banyak peserta didik lulus UN lebih besar. Guru dan sekolah juga berpeluang meninggikan nilai ujian sekolah apalagi perhitungannya mempergunakan rumus nilai gabungan = (0,6 x nilai UN) + (0,4 x nilai sekolah).

Jika guru dan sekolah curang dengan me mark up nilai ujian sekolah dan nilai raport akan diperoleh hasil yang lebih tinggi dan berpeluang lebih besar peserta didik yang lulus. Menciptakan UN yang jujur dan bebas dari kecurangan adalah keharusan bagi kita semua. Pendidikan tidak hanya dilihat dari hasil akhirnya saja tetapi juga proses yang dijalani selama peserta didik menjalani proses pendidikan. Menyederhanakan masalah hanya sekedar lulus UN sebagai tujuan pendidikan akan mengerdikkan fungsi lain seperti pembentukan karakter, budi pekerti dan kepribadian peserta didik.

Ketika pendidikan direduksi hanya sekedar mendapatkan kelulusan menyebabkan tujuan pendidikan bergeser dari pembentukan pribadi peserta didik hanya sekedar lulus UN. Akibatnya, peserta didik pun akan beranggapan bahwa sama saja maknanya mendapat nilai bagus dalam UN dengan kecurangan maupun dengan kejujuran. Ini semua terjadi karena kepada peserta didik tidak pernah diajarkan betapa nilai dan makna kejujuran memiliki nilai yang amat besar.

Pendidikan yang menghalalkan segala cara dan membiarkan budaya instan serta pragmatis ini yang menghancurkan hakekat pendidikan itu sendiri sebagai pembentuk karakter bangsa. Karena itu peristiwa yang akan dijalani peserta didik jenjang SLTA pekan depan akan menjadi momen yang menentukan apakah akan berlangsung sukses dan mengangkat martabat pendidikan atau justru karut-marut karena diwarnai dengan banyak kecurangan dan ketidakjujuran. | kabarindonesia

*Paulus Mujiran, praktisi pendidikan, Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian dan Pengembangan Sosial di Semarang

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: