Skip to content

Tunanetra Lulus di UI lewat Jalur Undangan

28 May, 2011
Hendia
Hendia Ogia (dua dari kanan)/Foto: padangekspres.com

TERLAHIR menjadi tunanetra, tak pernah disesali Hendia Ogia, 19. Dia tetap bersemangat belajar. Lulus ujian nasional di SMA Negeri 2 Bukittinggi, bukti bahwa keterbatasan tak menghalanginya meraih prestasi. Apalagi dia lulus jadi mahasiswa undangan di Universitas Indonesia (UI).

Namun, jalan menggapai impiannya masih terasa gelap. Bukan akibat matanya buta, lagi-lagi deraan kemiskinan menghadangnya melangkah ke UI. Untuk mendaftar ulang ke UI, tak mungkin bisa ditanggung kedua orangtuanya. ”Setidaknya butuh Rp15,8 juta dana masuk UI itu,” kata Ogia gusar.

Uang sejumlah tersebut, bagi M Nur dan Nurima, ayah dan ibu Ogia yang sehari-harinya jadi petani biasa dan pedagang sayur itu, tak tahu akan didapat di mana. Untuk makan sehari-hari saja ada, sudah mujur bagi mereka. Hati kecil Ogia berharap ada kemujuran. Ia ingin kuliah, menamatkan perguruan tinggi. Kebutaan mata, bukan halangan baginya untuk menjadi orang terdidik, berilmu pengetahuan, sehingga bisa menyesuaikan diri meraih peluang kerja untuk masa depan yang lebih baik.
Itu juga sudah dia buktikan saat menempuh pendidikan di SMP dan SMA. Dia tak mau sekolah di sekolah luar biasa yang ditujukan untuk anak berkebutuhan khusus. Tidak juga sekolah inklusi. Sempat ditolak saat masuk SMP, tapi dia menyakinkan mampu bersaing dengan siswa normal. Selama di SMPN 6 Bukittinggi, dia bisa meraih prestasi lima besar di kelas. Masuk SMA pada semester satu kelas II dia berhasil menembus juara umum. Di luar kelas dia pernah menjuarai lomba nasyid.

Anak asal Padanglua, Agam ini, tidak pernah sedikit pun menyesali kekurangan fisik yang dimilikinya. Barangkali, yang akan disesali dalam hidupnya kelak, jika ternyata, ia harus tetap sebagai si tunanetra yang hanya mampu hingga tamat SMA. Yang batal kuliah karena tak punya biaya.

”Kalau diberi kesempatan, saya tidak gentar bersaing dengan anak-anak lainya,” tekad Ogia, sembari menimpali, kalau kekurangannya bukan hambatan untuk berprestasi di kampus. Yang menghambat itu baginya, adalah biaya masuk UI, kemudian ketika andaikata ia jadi kuliah, biaya kebutuhan hari-hari sebagai mahasiswa.

Dia juga tak gentar berkuliah di Kota Depok, jauh dari sanak keluarga. ”Kuliah di mana saja saya siap. Saya tak takut menjelajahi ibu kota. Saya sudah coba jalan sendiri di Bukittinggi, Payakumbuh, Padang dan Jambi saat mencari kakak saya. Dengan bantuan tongkat dan banyak bertanya saya akhirnya bisa menemukan dia. Ini tantangan buat saya bersaing di ibu kota,” ujarnya.

Untuk membaca pelajaran dia sudah punya software khusus. Bisa juga dibantu teman. ”Jadi saya bisa melakukannya sendiri. Kalau ada teman itu lebih bagus. Makanya saya berharap bisa tinggal di asrama,” ujarnya.

Untuk biaya kuliah setiap semester, dia berharap nantinya dari bantuan biaya operasional pendidikan. Tapi yang saat ini mendesak tentu biaya keberangkatan, biaya masuk dan biaya selama menetap di sana sambil berharap turunnya dana biaya operasional pendidikan itu.
Sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah, Ogia mengandalkan tongkat dalam berjalan atau aktivitas. Bungsu dari tiga bersaudara ini mengaku, dengan tongkat ia bisa bergerak, mampu mengenal benda jarak dari satu meter. Pokoknya, ia akui, yang akan menjadi beban pikirannya cuma satu: perkara biaya untuk kuliah.

Kedua orangtuanya, mau tak mau pusing juga memikirkan nasib anaknya. Betapa tidak. Potensi sang anak bagus, tentu akan memukul batin Ogia jika tak bisa kuliah karena alasan tiada biaya. Ogia kini tengah berupaya mendapatkan bantuan dari Pemkab Agam dan Pemko Bukittinggi. Baginya, hanya kepada pemerintah salah satu tempat mengadu. Tentu, sembari berharap dan berdoa, semoga ada para dermawan, orang-orang bertangan mulia yang murah rezeki membantunya untuk mewujudkan harapannya untuk kuliah.

Ogia mengakui, kadang terlintas juga di pikirannya untuk tidak kuliah saja. Ini dikarenakan biaya pendidikan belum berpihak kepada orang miskin seperti dirinya. Karena itu, ia berharap, ada yang mendengar kesedihan hatinya. Seorang Ogia, tidak bisa melihat, menginginkan masa depan yang terang, yang bisa dirasakan oleh hati dan pikirannya kelak.

M Nur, ayah Ogia, tidak ingin mematahkan impian anaknya. Ia berusaha sekuat tenaga mendapatkan biaya agar bisa mewujudkan cita-citanya, kuliah di UI. Orangtua mana yang tidak gundah hatinya, risau pikirannya membayangkan kesedihan anak yang tidak bisa kuliah karena tak mempunyai dana. Wajar kiranya kalau hal itu menjadi pikiran M Nur, apalagi sampai berpikir, dengan apa pula membiayai kebutuhan Ogia sehari-hari nantinya ketika misalnya, ia jadi kuliah karena ada bantuan biaya?

Akhir-akhir ini, menurut Ogia, ada orang yang membantu mendatangi Pemerintah Kabupaten Agam, melalui Kesra dan Dinas Sosial untuk minta bantuan. Namun katanya, upaya Ogi ternyata belum direspons dengan baik, sehingga sampai kini, ia kadang terlihat pasrah dengan realita yang menimpa dirinya.

Ogia tidak minta dikasihani karena dia buta. Ogia sepertinya hanya ingin, dalam matanya yang buta, ia seakan melihat ada cahaya kebaikan menerangi hati tangan-tangan kaum dermawan yang baik hati, yang memberi dalam iklas selalu kepada kaum miskin atau dhuafa. Simpulnya dari semua itu: Ogia ingin kuliah! Tapi, dengan uang dari mana? Semoga ada jalan dari-Nya. Semoga donatur atau orangtua yang membantu biaya atau menjadikan Ogia anak angkat. | padangekspres

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: