Skip to content

Mereka Itu Bernama Kompa Jaya

14 June, 2011

Oleh Aulia Fitri

JAM sudah menunjukkan pukul 9.30 WIB, hilir mudik panitia berbaju putih les biru semakin ramai. Ada yang menyambut tamu, ada pula yang mengurus persiapan lainnya yang masih kurang.

Inisiator KOMPA JAYA

Pembacaan Ikrar oleh Inisiator Kompa Jaya/Foto: Dok. Panitia

Saya beserta teman-teman mahasiswa Aceh lainnya dari Depok, tepatnya hari Sabtu (11/6) lalu datang ke museum Juang 45 dalam rangka berakhir pekan sekaligus menghadiri sebuah acara pembentukan komunitas mahasiswa Aceh yang baru, nama yang saya dengar waktu itu Kompa Jaya.

Sebuah gedung lama dan bercorak Belanda menyambut kami, bertuliskan “Gedung Joang ’45 Menteng 31” dengan iringan lagu keroncong asli Jakarta. Saya pun berpikir ada apa ini, acara orang Aceh kenapa lagu keroncong malah yang ada menghiasi acara tersebut. Kenapa bukan Nyawong atau Kande beserta Rafly.

Ternyata tidak lama kami melangkah di depan gedung, seorang panitia langsung menyambut kami dan menunjukkan tempat acara berlangsung yang dimaksudkan tadi. Saya pun baru tahu ternyata gedung juang diakhir pekan memang selalu ada aktivitas untuk kunjungan-kunjungan dari siswa/i atau pelajar ke museum, maka dari itu gedung utama paling depan plus dengan onde-onde dan iringan lagu keroncong selalu ada.

Lagi-lagi, but ureueng Aceh teulat sepertinya tidak di Aceh maupun di Jakarta tetap saja sama. Melihat agenda acara sebenarnya jam 9 sudah dimulai seperti yang tertera dalam undangan, namun sudah beranjak puluk 10 juga belum ada gerangan untuk dimulainya acara.

Tidak lama kemudian, akhirnya tamu undangan yang sudah mulai memadati sekitar puluhan orang langsung disuruh ambil posisi di depan. Berbagai kalangan media, tamu-tamu dari berbagai instansi dan perguruan tinggi di Jakarta juga memadati ruangan lantai tiga gedung juang.

MC pun memulai acara, berbagai serahan dan kata sambutan dari Ketua Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda, T. Syafli Didoh serta Anggota DPD RI, Abdurrahman BTN serta yang terakhir sebagai keynote speaker yang juga turut hadir Wakil Ketua Anggota DPR RI, A. Farhan Hamid.

Peserta

Mahasiswa Aceh dari berbagai kampus di Jakarta/Foto Dok. Panitia

Bersamaan dengan seluruh kata-kata sambutan selesai, ikrar deklarasi pun dilanjutkan. Denni Arie Mahesa, Harianto Arby, Wahidin, Cut Milla dan Mawardi merupakan inisiator penggerak lahirnya Komunitas Mahasiswa dan Pemuda Aceh Jakarta Raya (Kompa Jaya) tampak berada di meja depan untuk membaca orasi.

Penandatangan nota deklarasi Kompa Jaya pun turut disaksikan oleh beberapa petua Aceh seperti anggota DPR RI, M. Nasir Djamil, Abdurrahman BTN serta T. Syafli Didoh. Berselang prosesi peusijuk seperti pada biasanya juga melengkapi acara tersebut.

Jelang ishoma pun datang, sekitar jam 14.00 WIB acara selanjutnya dalam rangkaian seminar pun dimulai, tema yang diangkat kali ini pun cukup klasik yakni “Penerapan Syari’at Islam ditinjau dari Persepektif Budaya dan Hukum Nasional”, turut hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut Pakar Hukum Pidana asal Aceh, T. Nasrullah, Kadis Syari’at Islam Aceh, Rusdji Ali Muhammad serta budayawan sekaligus wartawan Serambi Indonesia, Fikar W. Eda.

Seminar yang berlangsung hampir sekitar 90 menit ini memang mengetengahkan isu dan perihal sisi penerapaan syari’at yang selama ini diberlakukan di Aceh. Sebagai pengetengah tema pada waktu itu, Rusdji Ali memaparkan banyak hal tentang syari’at Islam di Aceh serta pengaruh modal sosial dan budaya masyarakat yang semakin beragam serta banyaknya penyimpangan yang terjadi diluar tradisi pemikiran yang sudah ada sejak dulu.

Rusdji mengatakan, tradisi pemikiran intelektual Aceh yang sudah ada dari jaman Hamzah Fansuri sampai ke masa Jalaluddin At Tarusany sudah banyak hilang di Aceh sekarang ini. Orang Aceh saat ini banyak menganut nilai kerja keras, namun dalam implementasi dan nilai-nilai ke-Aceh-an cukup berbeda, seperti kata hadih madja “Meu han ta hayon ngon ta antok, dalam bak jok han teubiet nira. Meu ta tem hayon ngon ta antok lam bak seumantok ji teubiet gula”, dimana ini menjelaskan semangat dalam bekerja keras harus dibarengi dengan usaha untuk bisa menikmati hasilnya tidak hanya cukup kata ingin dan niat.

Yang menarik dari apa yang disampaikan Rusdji juga menyangkut kearifan lokal di Aceh yang sedikit demi sedikit terkikis oleh budaya modern seiring dengan keterbukaan publik, hal ini juga salah satunya menyebabkan budaya hedonisme dan materialisme kian mencuat. Belum lagi dari kultur berbahasa, saat ini banyak anak Aceh yang tidak bisa berbahasa Aceh dan SDM perempuan Aceh terpinggirkan.

Sementara itu, T. Nasrullah menilai penyebaran syiar Islam di Aceh mulai berkurang. Ditambah lagi dengan tidak maksimalnya pelaksanaan syariat Islam di provinsi bekas konflik itu.

Berkurangnya syiar Islam, menurut Nasrullah, karena hampir 30 tahun masyarakat Aceh hidup dalam kondisi konflik. Syiar Islam yang menurut Nasrullah mulai memudar seperti pengajian dan salat berjamaah di meunasah.

Dari sisi budayawan,  Fikar juga menilai berbagai kultur seni dan budaya yang terjadi di Aceh bersumber pada agama. Seperti banyaknya ulama-ulama Aceh yang dan penyair mengadopsi ritme-ritme dalam setiap hikayat bernafaskan nilai-nilai syari’at Islam. Tidak hanya itu, beberapa alunan dan paduan hikayat-hikayat Aceh juga mengadopsi bunyi-bunyi akhiran dari ayat-ayat Al-Qur’an secara dinamis.

Fikar juga sedikitnya mengkritik tema dari seminar, dimana budaya bukan memberikan persepektif terhadap agama. Namun, sebaliknya agamalah yang memberikan pandangan pada budaya yang ada. Sebut saja contohnya, Khadafi asal Sibreh Aceh melaksanakan kewajiban shalat dengan Khadafi di Timur Tengah tetap sama karena bersumber pada ajaran Allah, tapi budaya Khadafi di Aceh dan di Timur Tengah tentunya beda karena budaya lahir dari pemikiran dan tindakan manusia-manusia, sehingga membedakan dengan agama yang diturunkan Allah lewat nabi dan rasul-rasulNYA untuk umat.

Demikianlah rangkaian seminar yang saya tangkap, di kesempatan lainnya saya juga sempat menanyakan kesiapan panitia acara, Muammar Khadafi dalam pelaksanaan acara perdana tersebut. Muammar mengaku telah mengkoordinasikan dengan baik dalam mengatur berbagai keperluan hari H, “namun yang terjadi hari ini setidaknya bisa menjadi masukan ke acara-acara mendatang, seperti kekurangan konsumsi untuk panitia sendiri yang salah komunikasi,” ungkap di sela-sela akhir acara.

Akhirnya, saya pribadi berserta komunitas SAMAN UI mengucapkan selamat atas terbentuk Kompa Jaya, tetaplah tangguh dengan menghadapi keadaan dan berilah kontribusi pada Aceh yang lebih baik kedepannya. Eratlah persaudaraan dengan elemen-elemen lain di Jakarta, IMPAS Jakarta, IMAPA Jakarta, LISUMA Jakarta dan berbagai komunitas serta organisasi Aceh lainnya.

Berbeda dalam cara dan menyumbangkan sumbangsih untuk Aceh tidak masalah, namun tujuan yang mulia lewat berbagai “kenderaan” organisasi setidaknya memberikan akserasi yang sama untuk Aceh yang lebih baik.

“Kalian (baca: Kompa Jaya) belum ada apa-apanya sekarang ini, belum ada nilai jual, tapi suatu saat jika kalian mampu dengan segala pencapaian yang ada bisa membuat orang-orang akan datang melirik kalian,” ungkap Nasrullah diakhir-akhir seminar. Nah, semoga kalimat-kalimat itu bisa menjadi salah satu landasan untuk terus  berpacu dalam kebaikan tentunya bagi Aceh. Sekali lagi selamat dan sukses untuk Kompa Jaya.[]

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: