Skip to content

Hemat Listrik, Insentif Menanti

23 June, 2011

Foto Novita ElianaOleh Novita Eliana

Berbicara mengenai upaya penghematan listrik di Indonesia memang tidak ada habisnya. Tarik-menarik kepentingan dibalik ide ini bagaikan benang kusut yang susah diurai. Para pebisnis bersikukuh menghemat listrik berarti menghambat proses produksi. Sebagian masyarakat berdalih mengubah kebiasaan menghidupkan AC sepanjang hari adalah hal yang sulit.

Sedangkan, para aktivis lingkungan bersikeras bahwa sumber energi hampir mengalami “sakratulmaut”. Pemerintah pun bingung bagaimana bersikap secara rasional. Penggunaan listrik di Indonesia masih tergolong boros. Pada 2007 konsumsi listrik di Jakarta mencapai 23% dari total konsumsi listrik seluruh Indonesia.

Pada 2005 fakta ironi mencuat, cadangan listrik di Jawa-Bali berada pada level yang mengkhawatirkan. Cadangan listrik yang ideal seharusnya 600 Megawatt.Namun, cadangan listrik Jawa-Bali hanya mencapai 120 Megawatt. Ketersediaan listrik di Indonesia masih bergantung pada energi fosil seperti minyak bumi.

Padahal, minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak diperbaharui (nonrenewable resources). Sehingga, ketersediaannya di alam terbatas dan jangka waktu untuk terproduksi kembali relatif lama. Konsekuensi logisnya adalah jika minyak bumi yang terbatas itu digunakan tanpa batasan maka dapat dipastikan kelestarian sumber energi fosil terancam.

Akibatnya,kegiatan manusia yang menggunakan energi listrik terhambat akibat keterbatasan sumber energi. Perilaku konsumtif masyarakat terhadap listrik adalah salah satu penyebab mencuatnya masalah ini.Kebiasaan masyarakat yang boros dalam menggunakan listrik bagaikan efek bola salju.

Pada awalnya kita menganggap,menyalakan lampu sepanjang hari atau menghidupkan AC secara berlebihan tidak berdampak apa-apa.Namun,semakin lama kebiasaan ini dapat memperburuk keadaan sumber energi listrik dan pada akhirnya akan berdampak pada langkanya sumber energi listrik itu sendiri.

Sebenarnya ada upaya yang dapat dilakukan dalam rangka mengubah kebiasaan boros masyarakat dalam mengonsumsi listrik. Misalnya, dengan pemberian insentif berupa sejumlah uang atau bonus bagi rumah tangga yang mampu menekan pemakaian listrik ke angka minimum setiap bulannya.

Dalam hal ini tentu saja pemerintah harus mengeluarkan sejumlah budget sebagai bentuk apresiasi bagi siapa saja berusaha melestarikan sumber energi listrik. Ketika masyarakat diberi trigger demikian, tentu akan timbul motivasi untuk bersikap hemat terhadap pemakaian listrik.

Walaupun pada awalnya masyarakat tertarik karena adanya insentif,nantinya sikap ini diharapkan menjadi sebuah kebiasaan yang baik di masa mendatang. Oleh karena itu, kini saatnya kita membiasakan yang benar bukan membenarkan kebiasaan yang salah. | seputarindonesia

* Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Sekretaris Umum SAMAN UI dan Anggota KSM Eka Prasetya Universitas Indonesia

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: