Skip to content

Revitalisasi Pasar Tradisional

23 July, 2011

NovitaOleh Novita Eliana

Masalah-masalah yang bermunculan di negeri ini jarang ada yang tuntas dibahas. Dulu saya berpikir jika sebuah masalah tidak lagi diberitakan oleh media, itu artinya pemerintah telah menemukan solusi jitu.

Tetapi,anggapan saya rupanya keliru. Negeri ini dipenuhi oleh masalah yang lupa dicarikan solusinya lalu masalah itu dipetieskan, dimunculkan lagi dan kemudian kembali dipetieskan. Pembahasan mengenai pasar tradisional versus pasar modern juga mengalami hal serupa.

Polemik ini kadang muncul ke permukaan kadang juga tenggelam dari pembahasan. Padahal jika ditelaah lebih lanjut, masalah ini memiliki urgensi yang tinggi untuk dicarikan solusinya. Kemunculan pasar modern seperti hipermarket, supermarket, atau minimarket dianggap sebagai pesaing bagi pasar tradisional.

Tingkat efisiensi yang mereka miliki tak akan terkejar sekuat apa pun para pelaku pasar tradisional berusaha mengimbanginya. Tingkat efisiensi,yang berujung pada kekompetitifan harga, merupakan perpaduan sumber daya yang sangat memadai baik itu uang dan manajemen.

Sementara umumnya pasar tradisional dikelola secara tradisional pula, seperti namanya. Sekalipun pemerintah turun tangan membantu pengelolaannya melalui aksi mengambangkan infrastruktur pasar, pasar tradisional tetap tak akan mampu bertarung satu lawan satu dengan pasar modern.

Pasar modern memiliki nilai jual karena menawarkan halhal yang dicari oleh konsumen. Harga yang murah,diskon,transaksi yang mudah, serta kenyamanan berbelanja adalah senjata untuk menarik konsumen.

Berbeda halnya dengan pasar tradisional yang cenderung dianggap bukan tempat yang ideal untuk berbelanja karena kotor, becek, dan tawarmenawar harga yang rumit. Sehingga tak heran pasar modern menjadi pemenang dalam permainan ini.

Data dari Euromonitor pada 2004 menyebutkan bahwa hypermarket merupakan peritel dengan tingkat pertumbuhan paling tinggi (25%), koperasi (14,2%), minimarket (12,5%), independent grocers(8,5%),dan supermarket (3,5%). Sedangkan pasar tradisional terus tergerus.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Garut, sebanyak 17 pasar tradisional terancam bangkrut karena kalah bersaing dengan minimarket. Hal ini perlu diperhatikan mengingat pasar tradisional merupakan tempat bergantung bagi masyarakat ekonomi menengah.

Peraturan Presiden (Perpres) No 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, serta Toko Modern sudah lama digulirkan.Namun, aplikasi dari peraturan tersebut masih jauh panggang dari api.

Sebagai contoh, masalah zoning (lokasi) minimarket seharusnya berjarak 1000 m dari pasar tradisional. Tetapi, kenyataannya tidak digubris. Seperti yang terjadi di Pasar Singosari,Kabupaten Malang, jarak minimarket dan pasar tradisional hanya 500 m. Mencermati kasus di atas, sebenarnya terdapat solusi yang masih dapat ditawarkan.

Ide untuk melakukan diferensiasi produk yang dijual di kedua pasar tersebut sepertinya patut untuk dicoba. Misalnya saja pasar tradisional menjual hasil pertanian seperti sayursayuran atau hasil laut seperti ikan.

Sedangkan pasar modern dapat menjual hasil produksi pabrik seperti makanan berkemasan. Diferensiasi ini diharapkan mampu menyehatkan persaingan antara pasar tradisional dan modern.

Sehingga nanti tercipta keadaan perekonomian yang kondusif. Masing-masing pasar memiliki produk tersendiri dan konsumen tetap yang akan menjamin denyut kehidupan pasar tradisional maupun modern. | sindo

* Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Sekretaris Umum SAMAN UI dan Anggota KSM Eka Prasetya Universitas Indonesia

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: