Skip to content

Australia Incar Mahasiswa Peneliti Indonesia

29 August, 2011
University of New South Wales

Ilustrasi/wieninakumala.wordpress.com

University of New South Wales (UNSW), di Sidney, Australia, tengah mencari banyak mahasiswa peneliti, terutama dari Indonesia.

“Kami tetangga, kami sangat dekat, kami bisa datang ke sana dengan cepat dan mudah untuk berkomunikasi dengan lembaga-lembaga terkait,” kata Laura Poole-Warren, Dekan Penelitian pada Program Pascasarjana UNSW, kepada The Austalian, Senin (29/8).

Sebuah laporan audit terbaru dari Badan Mutu Universitas Australia (AUQA) menyoroti adanya perkembangan dalam pelatihan penelitian delapan perguruan tinggi di negeri Kanguru itu.

Laporan itu mencatat mahasiswa internasional yang melakukan penelitian pascasarjana, sebagian besar PhD, menempati 40 persen mahasiswa peneliti di UNSW.

Dengan kebijakan baru, UNSW berencana merekrut lebih banyak mahasiswa peneliti dari “mitra kunci” di Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Vietnam, serta negara Timur Tengah seperti Iran.

Kelompok terbesar mahasiswa peneliti dari luar negeri di UNSW berasal dari China, negara sumber yang sebenarnya tak terlalu diinginkan universitas itu.

“Kami berpikir dapat membangun kemitraan produktif dengan Asia Tenggara. Kami sangat tertarik dengan negara yang kami dapat terlibat dalam pengembangan kapasitas,” kata Profesor Poole-Warren.

AUQA sebenarnya menyarankan agar praktik pemberian beasiswa penelitian kepada mahasiswa asing disertai kewajiban mengajar. Namun, faktanya menunjukkan, “Beberapa mahasiswa peneliti asing tidak memiliki kemampuan bahasa Inggris yang cukup untuk bekerja secara efektif sebagai tutor paruh waktu.”

“Lebih luas lagi, masalah kemampuan berbahasa Inggris dari para kandidat dikatakan semakin berkembang, terutama mengingat sejumlah kelompok mahasiswa datang dari negara dimana bahasa Inggris menjadi bahasa kedua,” kata laporan itu.

Profesor Poole-Warren mengatakan adalah berbahaya untuk mengasumsikan bahwa mahasiswa luar negeri sebagai kelompok yang lemah dalam bahasa Inggris.

Dia mengakui UNSW memang harus berhati-hati terkait kemampuan bahasa Inggris ketika memilih kandidat mahasiswa internasional.

Namun, dalam banyak hal mereka lebih unggul dibandingkan kandidat domestik, yang lebih sulit untuk direkrut. Apalagi, Australia tidak memiliki tradisi meninggalkan rumah dan bepergian ke kota lain untuk belajar.

Dia mengatakan UNSW harus berbuat lebih banyak untuk mempromosikan karir penelitian di kalangan mahasiswa lokal.

“Banyak mahasiswa lokal bahkan tidak berpikir tentang karir penelitian. Itu bukan lagi menjadi bagian dari jiwa mereka,” kata dia.

Dia mengatakan UNSW memiliki proporsi mahasiswa peneliti asing lebih tinggi daripada mitranya, Monash University.

“Ini menjadi bagian dari strategi kami. Kami merasa mahasiswa internasional berkualitas sangat tinggi,” kata dia. “Mereka kerap bisa menulis dan kuat dalam gelar masternya.”

“Begitu berkomitmen untuk datang ke sini, mereka sangat termotivasi. Mereka paling cepat selesai. Dalam tiga setengah dan empat tahun, mereka bisa lulus, sedangkan mahasiswa lokal cenderung lulus lebih dari empat tahun.” | pelita

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: