Skip to content

Jero Wacik: Pariwisata Menyejahterakan Rakyat

23 October, 2011
Jero Wacik

Jero Wacik/foto: okezone.com

Dua tahun usia Kabinet Indonesia Bersatu II menjadi momentum untuk memperbaiki kinerja. Ini dilakukan mengacu hasil evaluasi Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) yang menyatakan kinerja 25 persen kementerian sangat mengecewakan. Bagaimana kinerja Ir. Jero Wacik, S.E., saat memimpin Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata?

Mengutip hasil jajak pendapat sebuah harian terkemuka yang menempatkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebagai peraih nilai tertinggi dalam evaluasi tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja anggota kabinet, tidak membuat Jero Wacik berpuas diri.

Wacik mengilustrasikan peran yang diembannya selama ini seperti seorang stiker dalam sebuah kesebelasan sepak bola, man of the match yaitu pemain yang tidak kenal lelah untuk meraih kemenangan. Kemenangan yang dimanifestasikan yaitu bagaimana kebudayaan dan pariwisata Indonesia dioptimalisasikan untuk menyejahterakan rakyat.

Sejak awal, kata Wacik, pihaknya dalam menyusun program dan kegiatan selalu berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Langkah dan upaya kongkret adalah anggaran yang ada secara efisien dan efektif, dimaksudkan untuk mendukung tercapainya sasaran dan prioritas pembangunan yang berorientasi mempercepat pertumbuhan (Pro-growth), mengurangi kemiskinan (Pro-poor) dan mengurangi pengangguran (Pro-job). ”Kita secara konsisten dan sungguh-sungguh membangun kebudayaan dan mengembangkan kepariwisataan nasional untuk sebesar-besarnmya menyejahterakan masyarakat Indonesia,” katanya.

Menurut Wacik, berbagai kegiatan strategis dan jejak rekam perisitiwa pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan terus dimunculkan dan ditingkatkan kualitasnya, sehingga masyarakat memahami sekaligus memberikan apresiasi terhadap arah kebijakan yang ditempuh untuk tercapainya pembangunan kebudayaan dan kepariwisataan.

Kebijakan pembangunan kebudayaan dan pariwisata, jelas Wacik, tetap berbasis masyarakat dengan memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan tata kelola yang baik (good governance).

Bidang kebudayaan, menurut Wacik, pihaknya berupaya menanamkan nilai-nilai budaya bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), pelestarian budaya dan jatidiri serta untuk meningkatkan peran seni dan film sebagai media pengembangan budaya masyarakat dan daerah secara kreatif.

Peran strategis pembangunan kebudayaan semakin tampak dalam upaya pembangunan karakter dan identitas bangsa, pengikat nasionalisme dan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Sebagai negara yang memiliki masyarakat yang majemuk dan kaya dengan ragam budaya, azas Bhineka Tunggal Ika merupakan aset bangsa bahwa perbedaan yang ada harus disikapi dengan satu persamaan yang dilandasi budaya berpikir positif.

Budaya berpikir positif inilah yang mendorong Wacik selalu antusias mengapresiasi kebudayaan Indonesia. Tak heran, selama menjadi Menbudpar, Wacik telah mampu menempatkan budaya Indonesia untuk diakui Unesco, seperti Wayang Indonesia sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity, Keris Indonesia sebagai Masterpiece of The Oral and Intangible Heritage of Humanity, Batik Indonesia sebagai Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, dan Angklung Indonesia Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity.

Bahkan, Wacik juga mendorong terdaftarnya beberapa budaya asli Indonesia kepada Unesco seperti Noken (kerajinan tangan asli Papua) yang masuk List in Need of Urgent Safeguarding, Tari Tradisional Bali untuk Representative List of the Cultural Heritage of Humanity, dan Taman Mini Indonesia Indah untuk Register of Best Practices. ”Kita harapkan ketiganya akan diakui Unesco yang sidangnya akan digelar di Bali,” kata Wacik.

Sebelumnya, Wacik juga mengusulkan kepada Unesco yaitu Tari Saman Aceh untuk ditetapkan dalam kategori Daftar Perlindungan Mendesak (Urgent Safeguarding List) yang keputusannya akan digelar pada sidang Unesco di Bali, November 2011 mendatang.

Selain Tari Saman Aceh, warisan budaya benda Indonesia yang menunggu pengesahan adalah The Cultural Landscape of Bali Province : Pura Taman Ayun, Situs-situs DAS Pakerisan, dan Sawah Terasering Jatiluwih.

Bidang pariwisata, Wacik menyebutkan, pemerintah terus mendorong kepariwisataan Indonesia agar lebih berperan dan berkontribusi sebagai salah satu penggerak perekonomian nasional, dan berdaya saing secara global.

Harapan tersebut tidak saja terlihat dari data yang menunjukkan kecenderungan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun pergerakan wisatawan nusantara, tetapi saat ini persepsi masyarakat internasional terhadap Indonesia sudah semakin baik. Demikian pula dukungan industri pariwisata yang selama ini telah banyak berkontribusi dan menimbulkan multiplayer effect, semacam tersedianya lapangan kerja, terbukanya kesempatan berusaha, dll.

Peran strategis Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam peningkatan kinerja kepariwisataan terlihat dari kemajuan dan capaian penerimaan Produk Domestik Bruto (PDB) dimana 2004 silam hanya Rp 2,295.83 triliun, maka tahun 2008 mencapai Rp 4,954,03 triliun.

Di bawah kepemimpinan Wacik pula, pertumbuhan ekonomi PDB pariwisata selalu berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2008 misalnya, pertumbuhan PDB pariwisata mencapai angka 6,31 persen, sedangkan PDB nasional hanya 6,06 persen, dimana kontribusi PDB pariwisata terhadap PDB nasional pada tahun yang sama mencapai 3,09 persen.

Keberhasilan kinerja kepariwisataan juga tercermin dari meningkatnya jumlah pergerakan wisatawan nusantara yang akhir tahun lalu 234 juta dengan jumlah pengeluaran Rp 138 triliun atau mengalami peningkatan 3,05 % dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 229 juta perjalanan.

Tahun lalu saja, jumlah kunjungan wisman 7.000.571 atau tumbuh sekitar 8,5% dibandingkan tahun sebelumnya sebanyak 6.452.259 wisman. Capaian kunjungan wisman tahun ini melampaui target pesimistis 6,75 juta sebagai kontrak kinerja Menbudpar dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Capaian tersebut menghasilkan devisa sebesar 7,6 miliar dolar AS dengan perhitungan rata-rata pengeluaran 1.085.70 dolar AS/orang per kunjungan dan lama tinggal wisman rata-rata 8,04 hari. Pengeluaran wisman ini telah mengalami peningkatan sekitar 9 % dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 995,93 dolar AS/orang per kunjungan. Sedangkan lama tinggal wisman rata-rata 8,04 hari mengalami peningkatan sebesar 5 % dibandingkan tahun sebelumnya rata-rata 7,69 hari.

Bagaimana dengan ekonomi kreatif yang dibidaninya hingga terbentuk kementerian tersendiri, Wacik mengakui, pada tahun kedua Kabinet Indonesia Bersatu I, gerakan ekonomi kreatif telah menyita perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Potensinya luar biasa,” tegas Wacik.

Hal itu diakui Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu. Mari mengatakan, sektor ekonomi kreatif tak kalah pentingnya dengan sektor perdagangan yang selama ini ditanganinya. Pembentukan ekonomi kreatif, menurut Mari, menunjukkan komitmen Presiden Yudhoyono dalam memajukan sektor ekonomi kreatif. Sesuai dengan cetak biru yang ada, ekonomi kreatif menyumbang 10 persen dari nilai ekspor Indonesia. Tidak hanya itu, ekonomi kreatif juga telah menyerap sekitar 7,7 juta tenaga kerja.

Melalui koordinasi, konsolidasi, dan pemantapan rencana kerja dengan stakeholder serta sinergi dengan instansi lainnya, Wacik telah menancapkan tonggak bagi pembangunan kebudayaan dan pariwisata serta ekonomi kreatif sebagai penghasil devisa andalan dalam rangka menyejahterakan rakyat. | balipost

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: