Skip to content

Perguruan Tinggi Diminta Buat Jurnal Ilmiah

9 February, 2012
jurnal dikti

Terbatasnya jumlah jurnal ilmiah di Indonesia menjadi kekhawatiran tersendiri bagi mahasiswa dan perguruan tinggi, untuk mempublikasikan karya ilmiah.

Untuk itu, diharapkan setiap perguruan tinggi (fakultas dan jurusan) mau membuat jurnal ilmiah, baik cetak maupun online.

“Untuk (karya ilmiah) S-1 belum sampai jurnal terakreditasi, jurnal apa saja boleh, termasuk jurnal online juga boleh. Baru untuk S-2 dan S-3, itu masuk jurnal terakreditasi dan jurnal internasional,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, di Jakarta, kemarin.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu Dirjen Dikti mengeluarkan surat edaran yang isinya ketentuan baru terkait syarat kelulusan mahasiswa (S-1, S-2, dan S-3). Untuk program sarjana wajib mempublikasikan makalah di jurnal ilmiah. Program magister harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah nasional terakreditasi, dan program doktor harus menghasilkan makalah yang diterima untuk diterbitkan pada jurnal internasional.

Mendikbud menjelaskan, tujuan dari ketentuan baru tersebut adalah untuk membangun tradisi budaya menulis. Diharapkan publikasi karya ilmiah dapat berguna bagi orang lain dan dapat mempercepat perkembangan keilmuan.

“Karya ilmiah itu dimasukkan ke dalam jurnal, di-upload dalam sistem online, dan bisa disebarkan ke yang lain, sehingga ini menjadi penting,” imbuhnya.

Menambah Jurnal

Dia mengakui, banyak pihak yang merasa khawatir dengan minimnya jumlah jurnal ilmiah. Karena itu, pihaknya akan membuat sistem serta menambah jumlah jurnal.

“Saya sudah mintakan Dikti untuk dibentuk, dibangun, atau dibuat online jurnal sesuai dengan pembidangannya. Dengan demikian, karya yang begitu banyak dan terbatas untuk masuk di (jurnal) cetak, bisa masuk di jurnal yang kita buat,” ungkapnya.

Selain itu, diharapkan partisipasi dari masing-masing perguruan tinggi. “Bisa juga setiap universitas, fakultas, dan jurusan membuat jurnal masing-masing,” jelas mantan Rektor ITS itu.

Diharapkan para mahasiswa (khususnya S-1), tidak terlalu merasa terbebani dengan ketentuan baru itu, karena makalah yang harus dipublikasikan adalah makalah yang relatif sederhana.

“Tidak ada sesuatu yang susah. Misalnya saja praktik kerja lapangan di perusahaan, kalau bisa ditulis, ya tulis. Apa susahnya, wong sudah kuliah empat tahun masa nulis tiga sampai enam halaman tidak bisa,” tandas Nuh.

Ketentuan baru itu mulai berlaku setelah Agustus 2012. Alasannya, menyesuaikan kalender akademik perkualiahan. “Periode lulusan itu rata-rata mengikuti periode akademik, biasanya periode baru mulai September, sehingga yang wisuda semester akhir 2011-2012 masih menggunakan sistem lama. Untuk tahun akademik 2012-2013 itu sudah menggunakan mekanisme ini,” ungkapnya. | suara merdeka

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: