Skip to content

Membumikan ‘Virus Entrepreneurship’ di Aceh

21 June, 2012
entrepreneurs

Oleh Andri Mubarak*

SAYA cukup tergilitik ketika menonton Debat Kandidat Gubernur Aceh pada 5 April 2012 lalu, ketika seorang panelis, Prof Rhenald Kasali menyatakan bahwa hanya ada dua jenis pekerjaan yang dianggap sukses oleh orang Aceh, menjadi PNS atau kontraktor. Sampai ada lelucon yang menyatakan bahwa menantu yang baik bagi orang Aceh adalah PNS atau kontraktor saja. Tentu dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa menjadi PNS atau kontraktor adalah salah.

Apa pun pekerjaan seseorang asalkan memberikan nilai manfaat bagi dirinya bahkan bagi orang lain akan dinilai sebagai sebuah kebaikan. Lantas pertanyaannya adalah apakah di Aceh hanya ada dua jenis pekerjaan itu saja? Atau jangan-jangan kita sebagai masyarakat Aceh terlalu takut untuk mengambil resiko menjadi entrepreneur yang mandiri bahkan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain?

Seorang ahli ekonomi Austria menyatakan bahwa kewirausahaan (entrepreneur) adalah seseorang yang menemukan inovasi baru seperti produk baru, metode produksi baru, pasar baru dan bentuk organisasi baru. Semakin banyak penemuan-penemuan baru tersebut maka akan dapat membawa kesejahteraan dan manfaat bagi masyarakat. Saat ini beredar berbagai istilah yang menjelaskan ranah entrepreneur seseorang. Ada sociopreneur, technopreneur, dan creativepreneur.

Hal ini menjelaskan bahwa siapa pun bisa menjadi entrepeneur dalam berbagai ranah baik itu sosial, keilmuan, budaya dan sebagainya sesuai dengan keahliannya masing-masing. Menurut Edvardson, ciri utama seorang entrepeneur adalah berani mengambil resiko dan berorientasi pada tindakan nyata. Nilai inilah yang sejak kecil harus ditanamkan oleh orang tua kepada anaknya, sehingga kelak akan lahir banyak entrepeneur di Aceh.

Melahirkan entrepreneur

Anak muda Aceh sebagai ujung tombak pembangunan Aceh ke depan, tentu memegang peranan penting dalam membawa wajah pembangunan Aceh di masa yang akan datang. Salah satu perannya adalah bagaimana anak muda Aceh tidak hanya bisa bekerja di tempat orang lain, namun mampu menciptakan lapangan pekerjaan sendiri sehingga bisa memperkerjakan orang lain. Jika ini bisa dilaksanakan, tentu Aceh akan berkontribusi dalam meningkatkan jumlah entrepreneur Indonesia yang hari ini masih berada pada angka 0.18% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Menurut Sosiolog David McClellandt, suatu negara dikatakan makmur jika terdapat entrepreneur (pengusaha) sedikitnya 2% dari jumlah penduduknya. Jika kita mengintip negara tetangga, Singapura, mereka telah mencapai 7% dari total populasi penduduknya yang menjadi pengusaha bahkan mereka kekurangan tenaga kerja. Malaysia telah mencapai 3% dan Cina telah mencapai 10% dari total penduduknya. Jelas bahwa Indonesia masih jauh tertinggal dari negara lain.

Ada beberapa permasalahan yang menyebabkan semangat entrepreneur masih minim di kalangan anak muda Aceh. Doktrinisasi yang sangat mengakar di kalangan orang tua yang menyebabkan anak muda Aceh tidak berani keluar dari zona nyamannya. Menjadi seorang entrepreneur berarti keluar dari zona nyaman. Padahal ketika seseorang keluar dari zona nyamannya, maka akan sangat banyak pelajaran hidup yang bisa diambil. Doktrinisasi ini berupa anjuran bagi setiap anak pascakuliah untuk bekerja sebagai PNS. Kalau belum jadi PNS belum afdhal. Seharusnya setiap orang tua di Aceh mendoakan anaknya agar menjadi entrepreneur yang sukses.

Sistem pendidikan juga menjadi faktor penting yang menyebabkan budaya entrepreneur masih rendah di kalangan anak muda Aceh. Contoh kecil adalah adanya larangan untuk tidak boleh berjualan di sekolah, Ini adalah hal kecil yang akan berdampak dalam pembentukan mental entrepreneur di kalangan siswa sejak usia dini. Jika sekolah melarang siswanya berjualan maka akan sama dengan membiarkan perspektif bahwa kekayaan orang tuanya adalah kekayaan sang anak. Hal ini berdampak pada pembentukan karakter anak yang tidak mandiri, cenderung bergantung pada orang tua serta tidak berani keluar dari zona nyamannya.

Peran kampus juga harus dominan dalam menanamkan nilai-nilai entrepreneur di kalangan mahasiswanya. Kampus dapat memasukkan mata kuliah khusus entrepreneur ke dalam kurikulum. Praktek ini sedang dilakukan di beberapa kampus di Indonesia. Misal saja Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) yang telah memasukkan mata kuliah wajib technopreneur bagi mahasiswanya. Selain itu, organisasi kemahasiswaan di kampus juga harus berperan penting dalam menyebarkan “virus entrepreneur” di kalangan mahasiswa sehingga mahasiswa tidak asing lagi dengan kata entrepreneur.

Pemerintah Aceh juga harus mengambil peran dalam menyebarkan “virus entrepreneur” bagi anak muda Aceh. Hal ini dapat berupa pemberian modal sehingga anak-anak muda Aceh yang memiliki ide kreatif untuk menjadi entrepreneur tidak kesulitan dalam menjalankan idenya. Pemerintah juga dapat mengadakan sayembara bisnis plan yang pemenangnya akan diberikan modal untuk menjalankan bisnisnya.

Menjadi stimulus

Hal tersebut akan menjadi stimulus bagi anak muda Aceh untuk terus berpikir kreatif dalam mencari ide pengembangan bisnis. Kampanye tentang arti penting menjadi entrepreneur sejak dini juga dapat dilakukan. Sosialisasi ke sekolah dan kampus di berbagai pelosok daerah di Aceh dapat dijadikan sarana untuk mengubah pandangan masyarakat yang masih menganggap entrepreneur sebelah mata.

Selain itu, Pemerintah Daerah Aceh juga harus melakukan sinergisasi dengan Pusat untuk pengembangan entrepreneur di kalangan masyarakat khususnya anak muda Aceh. Pemerintah Pusat telah mengeluarkan beberapa peraturan, seperti Insutruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan (GNMMK) serta Instruksi Presiden nomor 6 pada tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif.

Dalam menerjemahkan peraturan tersebut ke dalam bentuk program kerja, Pemerintah harus dapat mempertimbangkan aspek sustainability sehingga mencegah lahirnya entrepreneur musiman, namun entrepreneur yang terus melahirkan ide-ide kreatif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Faktor lain yang mempengaruhi minimnya semangat entrepreneur di kalangan anak muda Aceh adalah belum adanya panutan sosok entrepreneur yang membumi di Aceh. Panutan berfungsi sebagai katalisator inspirasi bagi anak muda aceh untuk keluar dari zona nyamannya. Kita tentu merindukan sosok Sandiaga Uno-nya Aceh atau Bob Sadino versi Aceh. Harapannya sosok-sosok inilah yang bisa menjadi sumber inspirasi bagi anak muda Aceh untuk menjadi pengusaha sejak usia dini.

Sinergisasi dengan berbagai pihak juga sangat penting untuk menyebarkan virus ini. Pemerintah, masyarakat, LSM dan institusi pendidikan harus saling bahu-membahu untuk membumikan “virus entrepreneur” di kalangan anak muda Aceh. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Semoga “virus entrepreneur” dapat terus membumi ke berbagai pelosok Aceh hingga nantinya pekerjaan di Aceh tidak hanya PNS atau kontraktor saja. | serambinews

*Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Jakarta. Email: andri.mubarak_tiui09@yahoo.com

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: