Skip to content

Mengelola Sekolah dengan Ilmu Matematika Allah

15 October, 2012

Bantuan Bea Siswa bagi keluarga tidak mampu dan Rawan Putus Sekolah (RPS) dan bantuan sekolah untuk operasional sekolah sangat membantu kelangsungan belajar mengajar sekolah.

”Melalui bantuan ini, kami tidak lagi menggunakan hitungan matematika Allah,” tutur Slamet Riyadi, Kepala SMA Islam Tambora, Jakarta Barat.

Sekolah yang dibangun tahun 1950 oleh pengurus Masjid Jami Tambora, didirikan untuk meningkatkan pengetahuan agama maupun pengetahuan umum, sehingga sekolah ini ditempatkan di bagian belakang masjid, yang semula bekas makam wakaf.

Sedang dibagian depan sebelah baratnya dipinjamkan untuk Kantor Kelurahan Tambora (10×15 meter), letaknya sekolah ini dari luar karena disebelah selatannya bangunan Puskesmas, dan di bagian utara rumah warga.”Sekolah ini tak banyak yang mengetahui kecuali warga sekitarnya,” jelas Slamet Riyadi.

Selain pengurusnya bergantian, para pengajarnya lebih menitik beratkan kepada pengabdian karena siswanya sebagian besar dari keluarga tidak mampu, ada orangtuanya kuli panggul di pasar, pengemudi ojek, tukang becak.

Tidak saja tidak mampu bayar, terkadang guru juga mengadakan kunjungan ke rumah kontrakan keluarga siswa agar aktif mengikuti pendidikan.

Kondisi sekolah kian memprihatinkan, jika hujan banyak kelas yang bocor, aliran listrik sangat terbatas, biya pemasukan dari siswa tak bisa lagi diharapkan.

”Jika menggunakan secara matematika ekonomi sekolah ini harusnya sudah berhenti tidak ada kegiatan. Tapi Alhamdulillah dengan menggunakan matematika Allah sekolah ini tidak hanya tetap berlangsung juga lebih baik, ” kenang Slamet.

Sekolah ini bisa bertahan karena adanya partisipasi dermawan selain banyak bantuan dari Sudin Pendidikan Menengah Jakarta Barat. Ketika tahun 2002 Kantor Kelurahan Tambora dipindah ke lokasi lain. Sekolah ini bisa mengembangkan dan baru terlihat di lokasi itu ada sekolah.

Sebelum kantor kelurahan dipindah, siswa akan ke sekolah harus melalui lahan masjid.

TAK ADA WC

Saat Slamet Riyadi menjadi kepala sekolah tahun 1991, kondisi bangunnya sudah terancam ambruk, bocor, tidak ada WC-nya. Kalau siswa mau buang hajat harus ke WC Umum di bantaran Kali Krukut. Repotnya WC Umum ditertibkan.

”Hikmahnya ada, sekolah harus punyai WC agar siswa tidak numpang ke mesjid atau ke rumah penduduk,” tuturnmya.

Sekolah ini secara perlahan bisa diperbaiki, seperti memperoleh bantuan tahun 2003 dari Sudin Dikmen sebesar Rp 40 juta dan dari donasi Rp 15 juta. Kini semua dinding sudah tembok, ada tempat upacara, dilengkapi kantin, kipas angin, penerangan listrik.

HONOR KEPSEK Rp.400 RIBU

Hanya siswa dan guru masih gerah jika belajar mengajar karena udaranya yang pengap. “Kami bersyukur banyak guru dengan pengabdian, mungkin tidak percaya kalau upah guru sampai Oktober 2012 ini ada yang masih Rp 88 ribu/sebulan paling besar Rp 300 ribu/bulan. Kalau untuk kepala sekolah Rp 400 ribu/sebulan. Itu bukan honor bukan gaji karena semuanya dibawahUpahMinimum Povinsi (UMP),” sambung Slamet Riyadi.

Sekolah Islam Tambora ini memberikan pendidikan dari SD sebanyak 88 siswa, SMP 165 siswa dan SMA sebanyak 90 siswa, semua melakukan kegiatan belajar di 9 kelas, sedag jumlah pengajar 18 guru ditambah staf Tata Usaha dan 2 staf dibagian umum.

”Kami bersyukur kepada Pemprov DKI Jakarta yang telah memberikan 35 bea siswa RPS masing-masing Rp 240 ribu/bulan (Rp 2.880.000 tahun) setiap siswa, selain bantuan pendidikan lainnya. Kami lebih optimis sekolah ini lebih meningkat,” harapnya. | poskotanews

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: