Skip to content

Rumoh Aceh Berdinding Pelepah Rumbia: Bertahan Puluhan Tahun

7 April, 2013

Oleh Firdaus Yusuf

Rindang dan asri suasana sekitar lorong kecil menuju ke sebuah rumoh Aceh (rumah adat Aceh, red) — kediaman keluarga Abdurrahman Ismail, 46 tahun– di desa Kumbang Busu, Kecamatan Mutiara Barat, Kabupaten Pidie, Minggu, 7 April 2013. Pohon melinjo, pinang, dan kelapa tumbuh di perkebunan di dekat rumahnya tersebut.

Secara kasat mata, tak ada yang istimewa pada rumoh Aceh milik Abdurrahman.

Dan jika pun berbicara tentang rumoh Aceh, tentulah yang terbayang hanyalah rumah panggung yang terbuat dari papan, beratap daun nipah atau daun rumbia.

Disangga oleh enam belas atau dua puluh empat tiang, dan memiliki seuramoe keu (serambi depan), seramoe teungeh (serambi tengah), seramoe likot (serambi belakang), dan rumoh dapu (dapur).

Rumoh Aceh milik Abdurrahman yang sudah puluhan tahun masih berdiri itu berdinding pelepah rumbia. Dinding-dinding tersebut bertahan selama puluhan tahun lamanya.

Abdurrahman menuturkan pelepah rumbia akan bertahan lama asalkan tidak terkena hujan.

“Dinding rumah saya yang terbuat dari pelepah rumbia belum saya ganti sejak rumah itu dibangun. Pelepah rumbia bisa bertahan selama 30 hingga 40 tahun, asalkan tidak terkena hujan,” kata Abdurrahman menjelaskan.

Abdurrahman juga mengatakan, ia tak terlalu tahu pasti kapan tepatnya rumah tersebut dibangun. Adat di Pidie, kebanyakan kaum perempuanlah pemilik rumah–yang mendapat warisan berupa rumah dari keluarga.

“Rumah ini warisan dari keluarga istri saya untuknya. Jadi, saya tak tahu pasti kapan rumah ini dibangun,” kata ayah satu orang anak ini.

Istri Abdurrahman– Hamidah Ahmad, 42 tahun– yang akrab disapa Po Dah, mengatakan rumahnya sudah ada sejak dari nenek buyutnya dulu.

“Dari saya kecil, saya sudah tinggal di sini. Nenek saya dulu juga di sini. Rumah ini cuma atapnya saja yang saya ganti, itu pun karena bocor. Dapur juga pernah saya renovasi. Tapi, dinding dari pelepah rumbia belum pernah saya ganti,” ujar perempuan yang bekerja sebagai petani ini, menutup pembicaraan.

No comments yet

Tinggalkan komentar Anda disini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: